ISLAM LIVE – Ustaz Abdul Somad menyoroti kasus tewasnya seorang pria berinisial IKD yang diduga menjadi korban aksi main hakim sendiri setelah dituduh mencuri ayam di Kabupaten Tabanan, Bali. Melalui unggahan di media sosial, ia menegaskan bahwa dugaan tindak pidana tidak dapat dijadikan alasan untuk menghilangkan nyawa seseorang.
Dalam pernyataannya, UAS mengajak masyarakat melihat peristiwa tersebut dari sisi kemanusiaan. Menurutnya, korban bukan hanya sosok yang dituduh melakukan pencurian, tetapi juga seorang ayah yang meninggalkan anak-anaknya.
“Gadis kecil itu anak kita. Keponakan kita. Adik kita. Mencuri ayam tidak benar. Tapi ayam dibayar dengan nyawa tidak bisa dibenarkan,” tulis UAS.
UAS juga menyinggung kondisi sosial yang dinilainya masih memprihatinkan. Ia mempertanyakan mengapa masih ada masyarakat yang terdorong melakukan tindak kriminal karena kesulitan ekonomi, meski Indonesia dikenal memiliki sumber daya alam yang melimpah.
“Mengapa saudara kita mencuri? Di tengah negeri gemah ripah loh jinawi. Emas, nikel, minyak dan gas melimpah. Negeri penuh berkah, tapi rakyat susah. Nenek tua mengais beras. Pak tua mencuri sawit. Emas batangan dalam simpanan,” tulisnya.
Kasus tersebut menjadi perhatian publik setelah beredar video yang memperlihatkan putri bungsu korban menangis histeris saat prosesi pemakaman di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Korban diketahui meninggalkan tiga orang anak.
Peristiwa bermula ketika IKD diduga mencuri ayam aduan di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, pada Jumat (24/7) dini hari. Dugaan pencurian itu memicu kemarahan warga hingga korban dikeroyok dan meninggal dunia. Sepeda motor miliknya juga dilaporkan dibakar oleh massa.
