ISLAM LIVE – Menumbuhkan kebiasaan salat lima waktu pada anak menjadi tantangan yang dihadapi banyak orang tua di era digital. Beragam distraksi, mulai dari penggunaan gawai hingga padatnya aktivitas sehari-hari, membuat pembiasaan ibadah membutuhkan pendekatan yang lebih menarik dan konsisten.
Menjawab kebutuhan tersebut, Islamic Circle of Australia & New Zealand (iCAN) bersama sejumlah masjid dan relawan komunitas menghadirkan Salah Card Program, sebuah inisiatif Ramadhan yang dirancang untuk membantu anak-anak membangun rutinitas ibadah melalui metode yang sederhana dan menyenangkan.
Program ini menyertakan peserta mencatat pelaksanaan salat lima waktu, tilawah Al-Qur’an, serta berbagai amal kebaikan setiap hari dalam sebuah kartu khusus. Kartu tersebut diperbarui setiap dua pekan selama Ramadhan sebagai bentuk evaluasi sekaligus motivasi agar semangat beribadah tetap terjaga hingga akhir bulan suci.
Lebih dari sekedar membiasakan shalat, Salah Card juga menanamkan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak terdorong untuk membiasakan mengucapkan salam, berbicara dengan sopan, membantu orang lain, berbagi dengan teman, serta membangun kebiasaan mengucapkan terima kasih dan meminta maaf.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak hanya menekankan pelaksanaan ibadah, tetapi juga pembentukan karakter. Salat yang dijalankan secara konsisten diharapkan melahirkan pribadi yang santun, peduli, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Pada penghujung Ramadhan, seluruh kartu yang telah terisi dikumpulkan kembali. Anak-anak yang menunjukkan konsistensi dalam menjalankan shalat dan mencatat amal kebaikan memperoleh penghargaan sebagai bentuk penghargaan sekaligus dorongan agar kebiasaan tersebut terus berlanjut setelah Ramadhan berakhir.
Program yang diterapkan di berbagai kota di Australia ini menampilkan bahwa pelatihan karakter tidak selalu memerlukan metode yang rumit. Melalui media sederhana, anak-anak dilatih untuk bertanggung jawab terhadap ibadah sekaligus membangun disiplin dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, pembentukan karakter Islami sering kali berawal dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara berulang. Ketika salat, akhlak, dan amal baik dibiasakan sejak usia dini, nilai-nilai tersebut berpeluang tumbuh menjadi bagian dari kepribadian yang melekat hingga dewasa.
