ISLAM LIVE – Rujak Cingur Hj. Simpen yang telah berdiri sejak 1971 di Jalan Raya Dungus Nomor 22, Sukodono, Sidoarjo, membuktikan diri mampu bertahan lebih dari lima dekade. Warung legendaris yang kini dikelola generasi kedua ini tetap eksis dengan mengikuti perubahan cara masyarakat mencari informasi kuliner, dari rekomendasi langsung hingga media sosial.
“Petisnya di sini enak, pekat dan kental, cingurnya juga tidak bau,” ujar Zaini, pelanggan Rujak Cingur Hj. Simpen, di Sidoarjo, Kamis (3/9/2026) .
Peralihan dari promosi melalui rekomendasi langsung menuju media sosial menjadi salah satu perubahan yang dirasakan oleh generasi kedua pemilik warung. Jika sebelumnya pelanggan harus mengetahui warung tersebut dari orang lain, kini informasi mengenai lokasi dan menu dapat ditemukan melalui konten yang dibagikan di internet.
Cucu Hj. Simpen yang turut mengelola warung mengungkapkan bahwa peningkatan jumlah pelanggan justru mulai terlihat ketika usaha tersebut diteruskan oleh generasi kedua. Perkembangan platform seperti TikTok turut berperan dalam memperkenalkan warung ini kepada calon pelanggan yang sebelumnya tidak mengetahui keberadaannya.
“Mungkin ramainya itu mulai dari generasi kedua, sih. Karena dulu kan tidak ada media sosial, sekarang itu banyak orang yang kayak bikin di TikTok, di mana gitu,” ujarnya.
Dengan harga Rp20.000 per porsi, rujak cingur di warung ini menjadi pilihan kuliner yang terjangkau bagi masyarakat. Selain rujak cingur, tersedia juga menu gado-gado dan bakso bagi pelanggan dengan selera berbeda.
Pelanggan bernama Rahma mengaku rujak cingur di warung ini memiliki cita rasa yang selalu dirindukan. “Rujak Cingur di sini uenak, murah dan ngangenin rasanya, kalau lagi di Sidoarjo wajib masuk list kuliner pokok’e,” katanya.
Lebih dari lima dekade setelah pertama kali berdiri, Rujak Cingur Hj. Simpen masih menjadi salah satu pilihan kuliner legendaris di Sidoarjo. Cita rasa bumbu yang khas, harga terjangkau, serta promosi melalui berbagai platform media sosial menjadi kunci keberhasilan warung ini dalam mempertahankan eksistensinya hingga generasi kedua.
