ISLAM LIVE – DPRD Provinsi Jawa Tengah mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mempercepat pengembangan desa wisata. Langkah tersebut dinilai penting guna mendukung target Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menambah jumlah desa wisata dari 889 menjadi 1.889 hingga 2029.
“Desa wisata tidak cukup hanya dibentuk, tetapi harus dikelola secara profesional agar benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” kata Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah Sri Hartini dalam Dialog Parlemen di Pinusia Park, Ungaran, Kabupaten Semarang, Selasa (29/7/2026).
Menurut Sri Hartini, keberhasilan pengembangan desa wisata memerlukan sinergi lintas organisasi perangkat daerah, dunia usaha, akademisi, serta masyarakat. Ia juga menilai Generasi Z memiliki peran strategis dalam memperluas promosi desa wisata melalui berbagai platform digital, sementara masyarakat desa tetap menjadi pelaku utama karena memahami potensi wilayahnya.
Dalam forum yang sama, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah menyatakan pemerintah terus menyiapkan sumber daya manusia sektor pariwisata melalui pelatihan pelayanan wisatawan, kebersihan lingkungan, hingga sertifikasi kompetensi untuk meningkatkan kualitas layanan destinasi.
Sementara itu, pakar STIEPARI Semarang Gana Wuntu menilai desa wisata perlu dikembangkan secara kreatif dengan memadukan potensi budaya, kuliner, dan alam agar memiliki daya saing sekaligus mampu mendorong pertumbuhan UMKM.
Selain menambah jumlah desa wisata, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menargetkan pelatihan bagi 1.000 kreator konten hingga tahun 2029 untuk memperkuat promosi destinasi digital. Hingga kini sekitar 300 konten kreator telah mengikuti pelatihan. Pada tahun 2026, dua desa wisata di Jawa Tengah juga masuk kategori Desa Wisata Terbaik tingkat dunia, salah satunya Desa Candirejo di Magelang.
