ISLAM LIVE – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah serangan terbaru AS menewaskan sedikitnya 18 orang dan melukai 108 lainnya. Trump memperingatkan Washington dapat menyerang Iran kapan saja jika menginginkannya.
Ancaman tersebut disampaikan Trump pada Rabu setelah Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam pertukaran serangan terbesar sejak Juli. Militer AS menyerang sejumlah kota dan wilayah di pesisir selatan Iran, termasuk kawasan dekat Selat Hormuz yang saat ini diblokade.
“Itu adalah serangan yang sangat berat tadi malam. Dan kami siap melakukan serangan lainnya. Kapan saja kami mau,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Ia juga mengklaim serangan AS menghancurkan peralatan baru yang dibangun Iran di sepanjang Selat Hormuz.
Serangan AS turut menghantam sebuah pesta pernikahan di Kota Kuhestak, Kabupaten Sirik. Menteri Kesehatan Iran Mohammad-Reza Zafarghandi mengatakan dua anak termasuk di antara korban tewas, salah satunya anak berusia empat tahun. Sedikitnya empat orang dilaporkan tewas dalam serangan di lokasi tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyebut serangan terhadap Kuhestak sebagai kejahatan perang dan membantah klaim Amerika Serikat bahwa militernya tidak menargetkan warga sipil. Ia menegaskan bahwa korban dalam serangan tersebut merupakan warga sipil.
Iran kemudian membalas serangan Amerika Serikat dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Irak, dan Yordania. Di tengah eskalasi tersebut, penutupan Selat Hormuz oleh Iran juga terus mengganggu lalu lintas pelayaran dan berdampak pada harga minyak global.
Sejumlah pengamat menilai posisi Amerika Serikat dalam konflik semakin sulit karena Washington harus mengerahkan sumber daya militer untuk menghadapi persoalan di Selat Hormuz yang semakin kompleks. Mantan Letnan Jenderal Pakistan Tariq Khan mengatakan Iran tidak harus memenangkan pertempuran secara konvensional, tetapi dapat berupaya membuat perang semakin mahal bagi Amerika Serikat secara militer, ekonomi, dan politik.
