ISLAM LIVE – Ada kata-kata yang tampak terlalu sederhana untuk diperhatikan. Salah satunya baina بَيْنَ yang dalam bahasa Indonesia lazim diterjemahkan sebagai “antara”. Ia hadir untuk menunjukkan jarak: antara dua tempat, dua manusia, dua keadaan. Tetapi dalam bahasa Al-Qur’an, baina tidak berhenti sebagai penanda ruang. Ia dapat menunjuk pada hubungan, jarak batin, sesuatu yang berada di hadapan, bahkan keadaan yang memisahkan sekaligus menghubungkan.
Kata kecil ini seolah mengingatkan bahwa kehidupan manusia selalu berlangsung di wilayah “antara”. Kita berada antara masa lalu dan masa depan, antara keinginan dan kenyataan, antara diri kita dan orang lain. Dan justru di wilayah itulah banyak hal menjadi jelas.
Secara dasar, baina berarti ruang yang berada di antara dua sesuatu. Al-Qur’an menggambarkan hubungan semacam ini ketika menyebut dua kebun dalam kisah pemilik kebun:
وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا
“Kami jadikan di antara keduanya tanaman” (QS. Al-Kahfi: 32)
Di sini baina adalah ruang pemisah, tetapi sekaligus ruang yang membuat dua hal dapat dikenali sebagai dua hal yang berbeda.
Tanpa jarak, batas sering kali tidak terlihat.
Gagasan itu menjadi lebih menarik ketika baina berdekatan dengan akar kata yang melahirkan makna “menjadi jelas”, “tampak”, atau “terpisah”. Sesuatu yang sebelumnya tersembunyi menjadi terlihat ketika ia keluar dari keadaan yang menyelubunginya. Fajar, misalnya, “menjadi terang” ketika malam mulai terpisah dari cahaya. Dalam pengertian ini, jarak bukan semata-mata pemisah. Jarak dapat menjadi syarat bagi penglihatan.
Manusia barangkali mengalami hal yang sama. Ada sesuatu yang baru kita pahami setelah kehilangan jarak dengannya. Ada orang yang baru kita hargai setelah ia pergi. Ada keluarga yang baru terasa penting ketika kita tidak lagi bisa bersandar kepadanya. Ada waktu yang baru kita sadari nilainya setelah ia berubah menjadi masa lalu.
Di titik ini, baina menjadi lebih dari sekadar kata depan. Ia berbicara tentang kondisi manusia yang selalu berdiri di antara sesuatu dan sesuatu yang lain.
Al-Qur’an juga menggunakan baina untuk menggambarkan hubungan antarmanusia. Salah satu seruan yang sangat kuat berbunyi:
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ
“Bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian”
(QS Al-Anfal: 1)
Yang menarik, perhatian ayat ini bukan hanya kepada individu, melainkan kepada “apa yang ada di antara” mereka. Sebab hubungan manusia tidak hanya terdiri atas dua orang yang berdiri berdampingan. Ada ruang tak kasatmata di antara mereka: kepercayaan, kasih sayang, luka, kecurigaan, janji, dan kenangan.
Ruang itulah yang dapat rusak.
Dua orang mungkin masih duduk di meja yang sama, tetapi sesuatu di antara mereka telah retak. Mereka masih saling menyapa, tetapi tidak lagi saling memahami. Karena itu, memperbaiki hubungan bukan sekadar memperbaiki perilaku masing-masing. Yang harus dipulihkan adalah baina ruang bersama yang pernah membuat mereka dekat.
Dalam konteks yang lebih luas, Al-Qur’an juga menggunakan baina untuk menunjukkan sesuatu yang berada “di hadapan”
وَجَعَلْنَا مِنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ
“Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding (sekat) dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat” (QS. Yasin: 9)
Ungkapan مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ secara harfiah berarti “dari antara kedua tangan mereka”, tetapi maknanya dapat menunjuk kepada sesuatu yang berada di depan, dekat, atau telah lebih dahulu hadir. Karena itu, baina tidak selalu menunjuk ruang kosong di tengah dua benda. Ia dapat menunjuk segala sesuatu yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia.
Ada sesuatu yang berada di belakang kita, ada sesuatu yang menunggu di depan kita, dan ada sesuatu yang sedang berlangsung di antara keduanya: hidup.
Barangkali karena itu pula bahasa Al-Qur’an mempertemukan keluarga kata baina dengan bayān, bayyinah, dan tabayyun kata-kata yang berkaitan dengan kejelasan dan penyingkapan. Bayyinah adalah bukti yang jelas. Bayān adalah penjelasan yang membuka sesuatu yang semula samar. Tabayyun berarti menjadi jelas atau memastikan kebenaran suatu perkara.
Al-Qur’an berkata:
قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ
“Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat”
(QS Al-Baqarah: 256)
Kejelasan, dengan demikian, bukan sekadar memiliki informasi. Ia adalah kemampuan melihat perbedaan. Yang benar dapat dikenali karena ia tidak lagi bercampur dengan yang keliru. Yang nyata dapat dibedakan dari yang semu.
Inilah makna bayān: menyingkap sesuatu agar maknanya terlihat. Al-Qur’an menyebut dirinya sebagai petunjuk dan penjelasan bagi manusia. Nabi Muhammad saw juga diperintahkan untuk menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. Penjelasan bukan sekadar menambah kata-kata, melainkan mengangkat sesuatu dari wilayah samar menuju wilayah yang dapat dipahami.
Di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memeriksanya, makna ini terasa semakin penting. Kita hidup dalam banjir kabar, potongan video, opini, tuduhan, dan kesimpulan yang datang hampir bersamaan. Banyak orang merasa mengetahui sesuatu hanya karena telah melihatnya sekilas.
Padahal mengetahui belum tentu memahami. Melihat belum tentu jelas.
Karena itu Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang bayān, tetapi juga tentang bayyinah: tanda atau bukti yang membuat seseorang memiliki dasar yang terang. Bahkan dalam perkara yang melibatkan perselisihan, tradisi hukum Islam mengenal prinsip bahwa bukti berada pada pihak yang mengajukan klaim. Kebenaran tidak cukup dibangun dari suara yang paling keras.
Di sinilah kata yang berarti “antara” bertemu dengan kata yang berarti “menjelaskan”. Ada jarak yang harus diperiksa sebelum sebuah kesimpulan dibuat. Ada sesuatu yang harus dibedakan sebelum sebuah penilaian dijatuhkan.
Kehidupan modern sering membuat manusia ingin menghapus wilayah “antara”. Kita ingin jawaban seketika, penilaian segera, keputusan tanpa jeda. Padahal tidak semua yang berada di antara dua keadaan adalah kekosongan. Kadang-kadang di sanalah kebenaran sedang menampakkan dirinya.
Baina mengajarkan bahwa jarak tidak selalu berarti keterpisahan. Jarak bisa menjadi ruang untuk melihat. Sementara bayān mengajarkan bahwa kejelasan tidak selalu datang dari banyak bicara. Ia lahir ketika sesuatu yang tersembunyi berhasil disingkap.
Mungkin manusia memang membutuhkan sedikit jarak agar mampu melihat hidupnya sendiri. Berdiri terlalu dekat dengan masalah membuat segala sesuatu tampak kusut. Terlalu jauh membuatnya kehilangan makna. Kita membutuhkan ruang di antaranya; tempat untuk berhenti, membedakan, memahami, lalu memilih.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang apa yang ada di depan dan di belakang kita. Hidup juga ditentukan oleh apa yang kita lakukan di antara keduanya.
