ISLAM LIVE – Menjelang peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (1926–2026), sebuah visi besar untuk merombak paradigma pendidikan global diluncurkan melalui gelaran Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026, yang menempatkan pesantren sebagai kiblat pendidikan holistik dunia dalam mengatasi krisis pendidikan modern.
Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi, Rektor UNIDA Gontor sekaligus Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor, menegaskan GIHES adalah respons strategis terhadap krisis pendidikan modern yang kian mengkhawatirkan, dengan data WHO dan UNICEF (2024) yang menyebutkan satu dari tujuh remaja di dunia mengalami masalah kesehatan mental.
“Pendidikan saat ini berada di persimpangan jalan. Tantangan masa depan seperti kemampuan berpikir analitis, resiliensi, kepemimpinan, dan empati adalah kompetensi non-teknis yang berakar pada pendidikan karakter. GIHES hadir untuk merumuskan masa depan pendidikan yang holistik menyeimbangkan intelektual, spiritual, dan moral,” kata Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi, Rektor UNIDA Gontor, dalam keterangannya, Minggu (16/8/2026).
Simposium internasional yang digelar pada 5–6 September 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, mengusung tema “Exploring and Revealing the Pesantren Education System” dengan menghadirkan pembicara dari lima benua, termasuk Prof. Nuri Tinaz dari Turki, Prof. Ryoko Tsuneyoshi dari Jepang, serta tokoh dalam negeri seperti Ketua MPR Ahmad Muzani, Mendikdasmen Abdul Mu’ti, dan Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Prof. Hamid menekankan harapan agar dunia internasional dan institusi pendidikan di Indonesia mau belajar dari model pendidikan pesantren sebagai sebuah “School of Life” (Sekolah Kehidupan) yang mendidik santri melalui disiplin 24 jam, organisasi, kepemimpinan, dan pengabdian masyarakat.
“Di pesantren, santri dididik melalui disiplin 24 jam, organisasi, kepemimpinan, hingga pengabdian masyarakat. Di saat dunia Barat baru sibuk mendiskusikan konsep well-being dan pembentukan karakter untuk mengatasi krisis mental remaja, pesantren di Indonesia sudah mempraktikkannya selama berabad-abad melalui integrasi ilmu, adab, dan spiritualitas,” tegasnya.
Prof. Hamid berharap simposium ini menghasilkan “Deklarasi GIHES” sebagai warisan intelektual bersama dan komitmen kolektif untuk memajukan pendidikan Islam di masa depan.
