Dunia Hanya Sementara (Bagian 2): Mengapa Al-Qur’an Tidak Memerintahkan Kita Membenci Kehidupan Dunia

5 views

ISLAM LIVE – Setiap zaman memiliki godaannya sendiri. Dahulu orang berlomba mengumpulkan emas, tanah, dan ternak. Kini manusia mengejar angka di rekening, popularitas di media sosial, jabatan, dan gaya hidup yang terus dipertontonkan. Wajah dunia berubah, tetapi hakikat godaannya tetap sama: membuat manusia percaya bahwa kebahagiaan dapat dimiliki dengan terus menambah apa yang dimiliki.

Karena itu, ketika Al-Qur’an dan para imam banyak memperingatkan tentang bahaya dunia, muncul pertanyaan yang sering disalahpahami: apakah Islam mengajarkan kita untuk membenci dunia?

Jawabannya justru sebaliknya. Islam tidak mengajarkan kebencian terhadap dunia, melainkan mengajarkan agar manusia tidak diperbudak olehnya. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan jalan yang harus dilalui menuju kehidupan yang lebih abadi.

Apa yang Dimaksud dengan Dunia?

Secara bahasa, kata dunyā berasal dari akar kata yang bermakna “dekat” dan juga “rendah”. Ia disebut dunia karena merupakan kehidupan yang dekat dengan manusia, berbeda dengan akhirat yang masih menunggu di depan. Namun, kedekatan itu sekaligus mengingatkan bahwa dunia adalah tingkatan yang lebih rendah dibanding kehidupan akhirat.

Yang disebut dunia bukan hanya uang atau harta. Dunia mencakup seluruh fasilitas kehidupan material: kekayaan, rumah, kendaraan, pasangan hidup, anak-anak, kedudukan, bahkan kesehatan dan kekuasaan. Semuanya adalah nikmat Allah, tetapi semuanya memiliki satu sifat yang sama: sementara.

Dalam pembahasan sebelumnya, Al-Qur’an mengibaratkan dunia seperti tanaman yang tumbuh subur setelah hujan, lalu menguning dan akhirnya diterbangkan angin. Kini, pembahasan itu diperdalam: bukan bendanya yang tercela, tetapi ketika manusia menjadikannya sebagai tujuan hidup.

Dunia Memiliki Empat Sifat

Teks ini menjelaskan bahwa kehidupan dunia mempunyai empat karakter utama.

Pertama, ia fana. Tidak ada satu pun kenikmatan dunia yang bertahan selamanya. Kekayaan berpindah tangan, kecantikan memudar, kekuasaan berganti, dan usia terus berjalan.

Kedua, ia memikat. Dunia memang indah. Justru karena keindahannya itulah manusia sering terpesona dan lupa bahwa semua itu hanya sementara.

Ketiga, ia kosong jika dijadikan tujuan akhir. Dari kejauhan dunia tampak menjanjikan kebahagiaan tanpa batas, tetapi ketika berhasil diraih, manusia sering menemukan kehampaan yang tidak pernah disangka.

Baca Juga:  Ketika Janji Diingkari: Pelajaran Al-Qur’an tentang Bahaya Memutus Komitmen Iman

Keempat, ia penuh kesulitan. Tidak ada kenikmatan dunia yang diperoleh tanpa perjuangan, dan tidak ada kenikmatan yang bebas dari rasa takut kehilangan.

Namun empat sifat ini tidak menjadikan dunia sebagai sesuatu yang harus ditolak. Semua bergantung pada bagaimana manusia memandangnya. Jika dunia dijadikan sarana menuju Allah, ia berubah menjadi ladang akhirat. Tetapi jika ia dijadikan tujuan utama, ia menjadi penghalang menuju kebahagiaan sejati.

Karena itu, Imam Ja’far ash-Shadiq as pernah menjelaskan bahwa menggunakan dunia untuk menikah, membantu keluarga, menunaikan hak saudara, dan bersedekah bukanlah cinta dunia yang tercela. Semua itu justru termasuk bagian dari amal menuju akhirat.

Mengapa Banyak Riwayat Mencela Dunia?

Di dalam hadis-hadis Ahlul Bait terdapat banyak ungkapan yang sangat keras terhadap dunia.

Imam Musa al-Kazhim as berkata:

“Perumpamaan dunia seperti air laut; semakin diminum oleh orang yang haus, semakin bertambah hausnya hingga akhirnya membinasakannya.”

Ungkapan ini menggambarkan tabiat nafsu manusia. Keinginan materi hampir tidak pernah mengenal kata cukup. Semakin banyak dimiliki, sering kali semakin besar pula keinginan berikutnya.

Hadis lain menggambarkan dunia seperti ular yang kulitnya lembut ketika disentuh, tetapi racunnya mematikan.

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Dunia adalah bayangan yang akan lenyap dan mimpi yang akan berakhir.”

Bayangan tidak dapat digenggam, dan mimpi seindah apa pun akan hilang ketika seseorang terbangun. Begitulah dunia: tampak sangat nyata selama manusia hidup di dalamnya, tetapi nilainya akan berubah total ketika tirai kematian tersingkap.

Karena itu Rasulullah saw bersabda:

«الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ»

“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

Bukan karena seorang mukmin selalu menderita, melainkan karena ia membatasi dirinya dengan aturan Allah swt. Ia menahan hawa nafsunya demi kebahagiaan yang lebih besar di akhirat. Sebaliknya, orang yang tidak mengenal batas menganggap dunia sebagai tempat memuaskan semua keinginannya.

Akar Banyak Dosa Adalah Cinta Dunia

Imam Ja’far ash-Shadiq as memberikan peringatan yang sangat terkenal:

Baca Juga:  Ketika Kesombongan Menipu Manusia (Bag. 1): Kisah Al-Qur’an tentang Kesombongan, Syukur, dan Kehancuran

“Cinta dunia adalah pangkal setiap kesalahan.”

Imam Musa al-Kazhim as juga berkata:

“Setiap fitnah memiliki benih, dan benih seluruh fitnah adalah cinta dunia.”

Rasulullah saw pun mengingatkan:

“Kesombongan terbesar adalah cinta dunia.”

Semua riwayat ini bukan berarti memiliki harta adalah dosa. Yang dicela adalah ketika hati bergantung kepada dunia hingga rela mengorbankan kejujuran, keadilan, agama, dan kemanusiaan demi keuntungan sesaat.

Sejarah menunjukkan bahwa peperangan, penindasan, korupsi, perdagangan manusia, eksploitasi alam, bahkan penghancuran suatu bangsa sering kali berakar pada satu hal yang sama: kerakusan terhadap dunia.

Dunia Adalah Tempat Persaingan, Akhirat Tidak

Salah satu penjelasan menarik dalam teks ini adalah bahwa dunia merupakan ruang yang penuh keterbatasan. Jabatan tertentu hanya dapat diduduki satu orang. Sebidang tanah tidak mungkin dimiliki dua orang sekaligus. Karena itu, persaingan dunia sering melahirkan konflik, perebutan, bahkan kezaliman.

Sebaliknya, kenikmatan akhirat tidak bekerja dengan logika perebutan. Ilmu tidak berkurang karena dibagikan. Iman tidak habis karena diamalkan bersama. Kemuliaan seseorang tidak mengurangi kemuliaan orang lain.

Kesadaran inilah yang membuat seorang mukmin belajar merasa cukup. Ia bekerja keras, tetapi tidak rakus. Ia mengejar keberhasilan, tetapi tidak menghalalkan segala cara.

Menjadikan Dunia Sebagai Jalan, Bukan Tujuan

Pada akhirnya, dunia bukanlah musuh manusia. Ia hanyalah kendaraan. Tidak ada orang yang membangun rumah permanen di atas jembatan yang sedang ia lewati.

Begitu pula kehidupan. Harta, keluarga, pekerjaan, dan segala kenikmatan dunia adalah amanah yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Ketika semuanya diarahkan untuk mendekat kepada Allah, dunia berubah menjadi investasi akhirat. Tetapi ketika semuanya berhenti pada kepuasan diri, dunia berubah menjadi penjara yang mempersempit hati.

Mungkin karena itulah para arif berkata bahwa masalah terbesar bukanlah memiliki dunia di tangan, melainkan ketika dunia berhasil masuk ke dalam hati.

Selama dunia tetap berada di tangan, ia adalah nikmat. Namun ketika ia menguasai hati, ia berubah menjadi belenggu yang paling sulit dilepaskan.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA