Dunia Hanya Sementara (Bagian 1): Ketika Al-Qur’an Mengibaratkan Dunia Seperti Hujan yang Segera Mengering

10 views

ISLAM LIVE – Ada satu kesalahan yang hampir selalu diulang manusia sepanjang sejarah: menganggap sesuatu yang sementara seolah-olah abadi. Jabatan diperebutkan seakan tidak akan pernah berakhir. Kekayaan dikumpulkan tanpa batas, seolah dapat dibawa melewati kematian. Masa muda dirawat dengan berbagai cara, seakan usia tidak akan pernah menua.

Al-Qur’an mengoreksi cara pandang itu melalui sebuah perumpamaan yang sangat sederhana, tetapi mengguncang kesadaran. Dunia, kata Al-Qur’an, tidak lebih dari air hujan yang turun dari langit. Hujan itu menyuburkan bumi, menumbuhkan tanaman, menghijaukan ladang, lalu dalam waktu yang tidak lama semuanya mengering, menjadi jerami yang diterbangkan angin.

Allah swt berfirman:

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا ۝ الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“Dan buatlah untuk mereka perumpamaan kehidupan dunia, seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan suburnya karena air itu, kemudian tanaman itu menjadi kering yang diterbangkan angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal-amal yang kekal lagi saleh lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.”

(QS. Al-Kahfi: 45–46)

Ayat ini bukan sekadar menggambarkan pergantian musim. Ia sedang membongkar ilusi manusia tentang kehidupan.

Dunia Selalu Berulang, Tetapi Tidak Pernah Tetap

Mengapa Allah swt memilih hujan sebagai perumpamaan dunia?

Karena hujan adalah sumber kehidupan. Ketika turun, bumi yang mati berubah menjadi hijau. Pohon-pohon bertunas. Sawah menjadi subur. Bunga bermekaran. Semua tampak hidup dan indah.

Namun keindahan itu tidak bertahan lama.

Musim berganti. Daun menguning. Batang mengering. Bunga gugur. Yang semula mempesona akhirnya menjadi serpihan yang diterbangkan angin.

Begitulah dunia.

Kekayaan, kekuasaan, popularitas, bahkan kesehatan dan masa muda memiliki siklus yang sama. Semuanya tumbuh, mencapai puncak, lalu perlahan menurun. Tidak ada yang mampu menghentikan hukum itu.

Baca Juga:  Doa yang Tak Pernah Sampai: Ketika Manusia Mengetuk Pintu yang Salah

Ironisnya, justru pada fase dunia sedang “menghijau”, manusia sering lupa bahwa musim gugur pasti datang.

Mengapa Manusia Mudah Terpedaya?

Perumpamaan ini juga menjelaskan mengapa dunia begitu memikat.

Tanaman yang baru tumbuh terlihat segar. Warnanya indah. Buahnya menjanjikan. Orang yang melihatnya mudah terpikat.

Demikian pula dunia. Ia dihiasi dengan berbagai kenikmatan yang membuat manusia merasa nyaman. Al-Qur’an bahkan menyebut harta dan anak sebagai “zinah“, yaitu perhiasan kehidupan dunia.

Perhiasan memang indah dipandang. Namun fungsinya hanya menghias, bukan menjadi tujuan hidup.

Masalah muncul ketika manusia mengubah perhiasan menjadi pusat kehidupannya. Harta bukan lagi alat, tetapi tujuan. Anak bukan lagi amanah, melainkan sumber kesombongan. Jabatan bukan lagi sarana melayani, melainkan ukuran kehormatan.

Ketika itu terjadi, seseorang sedang membangun harapan pada sesuatu yang memang diciptakan untuk berlalu.

Yang Kekal Bukan yang Terlihat

Setelah menggambarkan rapuhnya dunia, Al-Qur’an segera mengalihkan perhatian kepada sesuatu yang justru tidak terlihat oleh mata: الباقيات الصالحات (al-bāqiyāt aṣ-ṣāliḥāt), amal-amal saleh yang kekal.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara dunia dan akhirat.

Dunia selalu mengalami penyusutan. Amal saleh justru terus bertumbuh.

Para ulama menjelaskan bahwa yang termasuk al-bāqiyāt aṣ-ṣāliḥāt mencakup seluruh amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah swt. Sebagian riwayat juga memasukkan dzikir seperti Subhānallāh, Alhamdulillāh, Lā ilāha illallāh, dan Allāhu Akbar. Ada pula yang menafsirkannya dengan salat lima waktu, salat malam, pendidikan anak yang saleh, dan seluruh kebaikan yang terus memberi manfaat.

Maknanya bukan membatasi, melainkan menunjukkan bahwa apa pun yang dikerjakan karena Allah swt akan tetap hidup meskipun pelakunya telah meninggal.

Seseorang mungkin kehilangan seluruh hartanya dalam satu malam. Namun satu sedekah yang dilakukan dengan ikhlas tetap tercatat. Sebuah ilmu yang diajarkan terus mengalir manfaatnya. Seorang anak yang dididik dengan baik menjadi amal yang terus hidup bahkan setelah orang tuanya wafat.

Baca Juga:  Ketika Hati Sakit dan Akal Membeku: Membaca Ulang Makna “Qalb” dalam Al-Qur’an

Inilah investasi yang tidak pernah mengalami krisis.

Dunia Adalah Tempat Menyelam, Bukan Tempat Menetap

Para ulama memberi ilustrasi yang menarik. Manusia diibaratkan seperti penyelam yang turun ke dasar laut mencari mutiara.

Ia harus turun ke dalam air. Tetapi ia tidak boleh tinggal di sana.

Jika terlalu lama menikmati laut, ia akan kehabisan napas.

Begitu pula kehidupan dunia. Dunia memang harus dijalani. Islam tidak mengajarkan meninggalkan pekerjaan, keluarga, perdagangan, atau pembangunan. Semua itu diperlukan. Namun semuanya hanyalah medan untuk mencari “mutiara” berupa amal saleh.

Kesalahan terbesar bukan memiliki dunia, melainkan tenggelam di dalamnya.

Alam Pun Mengajarkan Kefanaan

Menariknya, jika kita perhatikan, setiap jenis tanaman memiliki bentuk, warna, aroma, buah, dan mekanisme hidup yang berbeda. Ilmu pengetahuan modern bahkan terus menemukan spesies-spesies baru yang belum dikenal manusia.

Keanekaragaman itu menunjukkan betapa luasnya kekuasaan Sang Pencipta.

Namun seluruh keajaiban itu memiliki satu nasib yang sama: layu dan mati.

Artinya, bukan hanya manusia yang sedang berjalan menuju akhir. Seluruh alam pun sedang bergerak menuju kefanaannya masing-masing.

Hidup yang Layak Diperjuangkan

Rasulullah saw pernah mengingatkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah seorang musafir.

Ungkapan ini bukan ajakan membenci dunia, melainkan menggunakannya secara proporsional.

Kita bekerja, tetapi tidak diperbudak pekerjaan. Kita memiliki harta, tetapi tidak diperbudak harta. Kita mencintai keluarga, tetapi tidak melupakan Allah swt demi keluarga.

Karena pada akhirnya, yang ikut memasuki liang kubur bukan rekening bank, bukan rumah, bukan kendaraan, bukan pula gelar kehormatan.

Yang tetap bersama manusia hanyalah amalnya.

Barangkali itulah sebabnya Al-Qur’an tidak menutup perumpamaan ini dengan ancaman, melainkan dengan harapan: bahwa amal-amal saleh adalah bekal terbaik dan harapan paling baik di sisi Allah swt.

Musim gugur pasti datang. Daun akan mengering. Angin akan menerbangkannya. Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah layu: setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas karena-Nya.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA