ISLAM LIVE– Ada keputusan yang lahir dalam sekejap. Ada pula yang ditempa perlahan, melalui pergulatan panjang, hingga akhirnya menjadi keyakinan yang tak mudah digoyahkan. Dalam bahasa Arab, proses itu dirangkum dalam satu kata yang kaya makna: ibrām. Ia bukan sekadar berarti “memutuskan”, melainkan mengokohkan sebuah perkara hingga menjadi bulat, rapat, dan sulit dipatahkan.
Menariknya, makna itu tidak lahir dari ruang abstrak. Akar katanya justru berasal dari pekerjaan yang sangat sederhana: memilin tali. Seutas serat yang lemah diputar berulang-ulang hingga menjadi tambang yang kuat. Semakin sering dipilin, semakin kukuh ikatannya. Dari pengalaman sehari-hari itulah bahasa Arab meminjam gambaran tentang bagaimana sebuah keputusan seharusnya dibentuk.
Al-Qur’an menggunakan kata ini ketika menggambarkan orang-orang yang merasa telah menyusun rencana yang matang untuk menentang kebenaran.
أَمْ أَبْرَمُوا أَمْرًا فَإِنَّا مُبْرِمُونَ
“Ataukah mereka telah menetapkan suatu rencana dengan sungguh-sungguh? Maka sungguh, Kami pun menetapkan” (QS. Az-Zukhruf: 79)
Ayat ini menghadirkan ironi yang halus. Manusia sering merasa rencananya telah sempurna. Segala kemungkinan sudah diperhitungkan, segala celah telah ditutup. Namun di atas semua rancangan itu masih ada kehendak Tuhan yang jauh lebih kokoh. Sebesar apa pun keteguhan manusia, ia tetap berada dalam lingkaran keputusan Allah yang tidak mungkin dilampaui.
Di titik inilah ibrām mengajarkan pelajaran yang lebih dalam daripada sekadar ketegasan. Keteguhan memang diperlukan, tetapi ia harus disertai kesadaran bahwa manusia bukan penguasa akhir dari setiap hasil yang diusahakan. Ada ruang bagi ikhtiar, tetapi juga ada ruang yang harus diisi dengan tawakal.
Makna itu semakin menarik ketika ditelusuri ke asal katanya. Tali yang dipilin tidak menjadi kuat hanya karena sekali putaran. Ia membutuhkan pengulangan, kesabaran, dan ketelitian. Begitu pula karakter manusia. Keteguhan bukan bakat yang turun dari langit, melainkan hasil dari latihan panjang. Kejujuran yang terus dipertahankan, disiplin yang diulang setiap hari, serta keberanian mengambil sikap meski tidak populer semuanya adalah bentuk-bentuk pilinan yang perlahan menguatkan jiwa.
Sebaliknya, orang yang mudah berubah arah setiap kali diterpa keadaan ibarat tali yang belum selesai dipilin. Tampak utuh dari kejauhan, tetapi mudah terurai ketika menerima beban. Karena itu, kualitas sebuah keputusan sering kali tidak diukur dari kerasnya ucapan, melainkan dari konsistensi menjalaninya.
Dalam perkembangan makna bahasa Arab, kata yang sama juga melahirkan gambaran tentang seseorang yang terus mendesak atau memaksa kehendaknya. Ia disebut mubrim, orang yang begitu kuat menekan persoalan hingga terkadang membuat orang lain merasa sesak. Perumpamaannya tetap sama: seperti tali yang dipilin semakin rapat.
Bahasa seolah ingin mengingatkan bahwa setiap kekuatan memiliki dua sisi. Keteguhan bisa menjadi sumber integritas, tetapi juga dapat berubah menjadi keras kepala apabila kehilangan kebijaksanaan. Tidak semua hal harus dipaksa selesai dengan tekanan. Ada saat ketika ketegasan diperlukan, namun ada pula waktu untuk mendengar, memberi ruang, dan menerima bahwa pandangan orang lain mungkin menyimpan kebenaran yang tidak kita lihat.
Keunikan bahasa Arab bahkan memperluas akar kata ini ke berbagai makna lain. Sesuatu yang memiliki dua warna disebut barīm, karena menyerupai tali yang dipilin dari dua helai dengan warna berbeda. Gambaran ini terasa sangat puitis. Kehidupan memang jarang terdiri atas satu warna saja. Hitam dan putih, suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan, semuanya sering terjalin menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Dalam kehidupan modern, kita kerap tergoda melihat segala sesuatu secara hitam-putih. Orang dianggap sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Padahal realitas jauh lebih rumit. Sama seperti pilinan tali, kekuatan justru lahir dari pertemuan berbagai unsur yang berbeda. Perbedaan tidak selalu berarti perpecahan; ia bisa menjadi sumber kekuatan apabila dirajut dengan tujuan yang sama.
Gagasan ini kemudian menyentuh kehidupan sosial kita. Sebuah keluarga yang kokoh bukanlah keluarga yang bebas dari perbedaan pendapat, melainkan keluarga yang mampu merajut perbedaan menjadi kesatuan. Demikian pula sebuah bangsa. Persatuan bukan berarti semua orang harus berpikir seragam, tetapi mampu mengikat keragaman dalam tujuan bersama. Seutas tali tidak kehilangan identitas serat-serat penyusunnya, namun justru menjadi kuat karena semuanya saling mengikat.
Ada pula makna menarik yang lahir dari akar kata ini: burmah, yakni periuk atau wadah memasak. Secara etimologis, ia dipahami sebagai wadah yang dibuat kokoh dan kuat. Lagi-lagi, bahasa menghadirkan pelajaran yang halus. Wadah yang baik bukan sekadar indah dipandang, tetapi mampu menahan panas, menjaga isinya, dan bertahan dalam waktu lama.
Bukankah manusia pun memerlukan “wadah” seperti itu? Hati yang kokoh menjadi tempat terbaik bagi ilmu, pengalaman, dan hikmah. Sebaliknya, hati yang rapuh mudah retak oleh pujian maupun celaan. Sedikit sanjungan membuatnya lupa diri, sedikit kritik membuatnya kehilangan arah.
Pada akhirnya, ibrām bukan hanya tentang keputusan yang tegas. Ia adalah kisah tentang proses. Tentang bagaimana sesuatu yang tampak lemah dapat menjadi kuat melalui ketekunan. Tentang bagaimana keteguhan harus selalu berjalan berdampingan dengan kerendahan hati. Dan tentang bagaimana manusia boleh menyusun rencana sebaik mungkin, tetapi tetap menyadari bahwa ada keputusan yang jauh lebih sempurna daripada seluruh rancangan yang pernah dibuatnya.
Barangkali di situlah kebijaksanaan terbesar dari kata ini. Hidup bukan sekadar memilih jalan, melainkan terus memilin keyakinan, akhlak, dan harapan hingga menjadi tali yang cukup kuat untuk membawa kita melewati setiap tikungan zaman.
