ISLAM LIVE – Ada jenis mabuk yang tidak terlihat dari mata, tidak tercium dari napas, dan sering kali justru dialami oleh orang yang merasa paling sadar. Ia bukan mabuk karena minuman, melainkan mabuk karena merasa memiliki segalanya: harta, jabatan, pengaruh, kecerdasan, bahkan merasa tidak membutuhkan siapa pun. Dalam bahasa para ulama, kondisi itu disebut gurur—tipuan batin yang membuat manusia lupa dari mana ia berasal dan ke mana ia akan kembali.
Dalam pembahasan tentang perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur’an, kisah tentang manusia yang terjebak dalam kesombongan bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah cermin yang terus memantulkan wajah manusia modern: mereka yang sibuk membangun citra, mengejar kepemilikan, dan mengukur nilai diri dari apa yang berhasil dikumpulkan.
Al-Qur’an menggambarkan seorang pemilik kebun yang diberi kenikmatan besar. Ia memiliki dua kebun yang subur, dipenuhi pohon anggur, dialiri sungai, dan menghasilkan banyak buah. Kekayaan itu membuatnya merasa berada di puncak keberuntungan. Namun perlahan, kenikmatan berubah menjadi jebakan.
Ia berkata kepada sahabatnya:
وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنقَلَبًا
“Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan terjadi, dan sekiranya aku benar-benar dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada ini.”
(QS. Al-Kahfi: 36)
Kalimat itu menunjukkan perubahan yang halus namun berbahaya. Masalahnya bukan sekadar memiliki harta, melainkan ketika harta membuat manusia merasa aman dari perubahan, merasa kekuasaan akan bertahan selamanya, dan menganggap masa depan pasti mengikuti keinginannya.
Dalam pandangan Al-Qur’an, kesombongan sering lahir dari lupa. Manusia lupa bahwa sebelum menjadi sosok yang kuat, ia pernah berada dalam keadaan yang sangat lemah. Ia lupa bahwa tubuh yang kini dibanggakan berasal dari sesuatu yang kecil dan tidak berdaya.
Untuk menghadapi penyakit kesombongan, para ulama menjelaskan ada dua cara: mengingat masa lalu dan membayangkan masa depan.
Masa lalu manusia adalah pengingat paling sederhana. Sebelum memiliki nama, jabatan, dan pengaruh, manusia pernah menjadi seorang bayi yang bahkan tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Sebelum itu, ia berada dalam rahim, bergantung sepenuhnya kepada Allah swt. Bahkan sebelum menjadi manusia yang dihormati, ia berasal dari sesuatu yang tidak menarik perhatian siapa pun.
Sedangkan masa depan membawa manusia kepada satu kenyataan yang sering dihindari: kematian.
Di tempat yang sama, manusia yang dahulu kuat, kaya, dan berkuasa akhirnya menjadi bagian dari tanah. Tubuh yang dulu dijaga dengan bangga perlahan kembali kepada asalnya. Jabatan hilang, pujian berhenti, dan yang tersisa hanyalah amal serta hubungan manusia dengan Tuhannya.
Imam Ali as pernah mengingatkan:
“Mabuk karena kelalaian dan kesombongan lebih sulit disadarkan daripada mabuk karena khamar.”
Sebab orang yang mabuk minuman biasanya akan sadar setelah beberapa waktu. Namun orang yang mabuk oleh kesombongan bisa terus hidup dalam ilusi sampai datang sesuatu yang mengguncangnya—sering kali ketika kesempatan untuk memperbaiki diri sudah hampir tidak ada.
Kisah pemilik kebun dalam Al-Kahfi menunjukkan bahwa kehancuran tidak selalu datang karena seseorang tidak memiliki nikmat. Justru terkadang kehancuran datang karena manusia gagal memahami nikmat itu sendiri.
Allah swt berfirman:
وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا
“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu dia membolak-balikkan kedua tangannya karena menyesal terhadap apa yang telah dia belanjakan untuk itu, sedang pohon-pohon anggurnya roboh bersama para penyangganya…”
(QS. Al-Kahfi: 42)
Ayat ini menggambarkan sebuah kehancuran yang bukan hanya material, tetapi juga psikologis. Yang hancur bukan sekadar kebun, melainkan keyakinan palsu bahwa manusia mampu mengendalikan segalanya.
Dalam kehidupan modern, bentuk “kebun” itu bisa bermacam-macam. Ada yang berupa rekening bank, popularitas, jabatan, pengikut di media sosial, atau kemampuan intelektual. Semua itu bisa menjadi nikmat, tetapi juga bisa berubah menjadi jebakan jika membuat manusia merasa lebih tinggi dari yang lain.
Ada kisah menarik tentang seorang tokoh yang dihormati ketika memiliki kedudukan. Saat masa kejayaannya, banyak orang mendekat, memuji, dan mencari hubungan dengannya. Namun ketika pengaruhnya hilang, orang-orang itu perlahan menjauh. Ia kemudian menyadari bahwa sebagian hubungan manusia dibangun bukan karena ketulusan, melainkan karena kepentingan.
Karena itu Al-Qur’an mengingatkan bahwa perlindungan sejati bukan berasal dari harta, manusia, atau kekuatan yang sementara.
هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ
“Di sana (pada hari itu) kekuasaan yang mutlak hanya milik Allah Yang Maha Benar.”
(QS. Al-Kahfi: 44)
Pesan ini bukan ajakan untuk meninggalkan dunia atau menolak keberhasilan. Islam tidak mencela manusia yang memiliki harta atau kedudukan. Yang dikritik adalah ketika manusia menjadikan semua itu sebagai alasan untuk lupa kepada sumber segala nikmat.
Pada akhirnya, masalah terbesar manusia bukan ketika ia memiliki banyak hal, tetapi ketika ia lupa bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan. Kesombongan membuat manusia melihat dirinya sebagai pemilik mutlak, sementara kesadaran membuat manusia memahami bahwa ia hanyalah seorang pengembara yang suatu hari akan kembali.
Di tengah dunia yang semakin mendorong manusia untuk menunjukkan pencapaian, mungkin pertanyaan paling penting bukan “berapa banyak yang sudah kita miliki?”, tetapi “apakah semua yang kita miliki membuat kita semakin mengenal siapa yang memberikannya?”
