ISLAM LIVE – Ada satu kecenderungan yang terus berulang dalam sejarah manusia: mengukur Tuhan dengan ukuran dirinya sendiri. Ketika manusia berpikir tentang kekuasaan, ia membayangkan singgasana. Ketika membayangkan kemuliaan, ia membayangkan keturunan. Ketika membayangkan kebutuhan, ia membayangkan apa yang juga dibutuhkan oleh dirinya. Dari sinilah lahir berbagai bentuk penyimpangan akidah, mulai dari penyembahan berhala hingga keyakinan bahwa Allah swt memiliki sifat-sifat yang sama dengan makhluk-Nya.
Al-Qur’an menyinggung kecenderungan itu dalam Surah An-Nahl ayat 60:
لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ ۖ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat mempunyai sifat yang buruk, dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”* (QS. An-Nahl: 60)
Ayat ini tampak singkat. Namun di balik kalimatnya tersimpan sebuah pelajaran besar tentang cara manusia memahami Tuhan, dirinya sendiri, dan dunia yang ia tempati.
Ketika Tuhan Diukur dengan Ukuran Manusia
Para mufasir menjelaskan bahwa frasa “mathalus su’” (perumpamaan buruk) merujuk pada sifat-sifat tercela yang muncul dari cara pandang yang keliru. Orang yang tidak percaya pada hari akhir cenderung menganggap kehidupan hanya berhenti di dunia. Akibatnya, ukuran benar dan salah sering kali ditentukan oleh untung dan rugi semata.
Dalam logika seperti itu, kebohongan dapat dianggap wajar jika menghasilkan keuntungan. Kezaliman dapat diterima selama membawa kekuasaan. Bahkan pengkhianatan pun bisa dipandang sebagai strategi.
Al-Qur’an tidak sekadar mengkritik perilaku tersebut. Ia menelusuri akar masalahnya: hilangnya kesadaran bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap perbuatannya.
Sebaliknya, Allah swt memiliki “al-matsal al-a‘la”—perumpamaan tertinggi, sifat paling sempurna, dan kemuliaan yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun di alam semesta. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya.
Manusia bisa kuat lalu lemah. Bisa kaya lalu miskin. Bisa berkuasa lalu tumbang. Kekuasaan manusia selalu dibatasi oleh waktu, ruang, dan keadaan. Adapun kekuasaan Allah tidak bergantung pada apa pun. Ia tidak bertambah karena dipuji dan tidak berkurang karena diingkari.
Mengapa Allah Tidak Bisa Disamakan dengan Makhluk?
Menariknya, sebagian ulama menjelaskan ayat ini dengan sebuah pendekatan yang dekat dengan logika manusia.
Bayangkan matahari. Hampir seluruh kehidupan di bumi bergantung padanya. Tumbuhan tumbuh karena cahayanya. Energi yang tersimpan dalam batu bara, minyak bumi, hingga berbagai sumber daya alam pada akhirnya bersumber dari proses yang terkait dengan energi matahari.
Namun matahari sendiri tidak menerima energinya dari bumi. Ia memancarkan energi tanpa bergantung pada makhluk yang menerimanya.
Perumpamaan ini tentu tidak dimaksudkan untuk menyamakan Allah dengan matahari. Justru sebaliknya. Jika makhluk seperti matahari saja dapat menjadi sumber bagi makhluk lain tanpa bergantung kepada mereka, maka Allah swt jauh lebih tinggi dan lebih sempurna daripada segala gambaran yang bisa dibentuk oleh akal manusia.
Karena itulah Al-Qur’an menegaskan:
فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ
“Maka janganlah kamu membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah.” (QS. An-Nahl: 74)
Setiap perumpamaan pada akhirnya memiliki keterbatasan. Sedangkan Allah tidak dibatasi oleh apa pun.
Dari Anak Perempuan hingga Krisis Nilai
Ayat tentang *“al-matsal al-a‘la”* juga terkait dengan kritik Al-Qur’an terhadap budaya Arab Jahiliah. Pada masa itu, sebagian orang merasa malu ketika memperoleh anak perempuan. Kelahiran bayi perempuan dianggap beban sosial dan ekonomi.
Al-Qur’an menggambarkan reaksi mereka dengan sangat tajam: wajah mereka menghitam karena menahan rasa malu, lalu mereka mempertimbangkan apakah akan memelihara anak itu atau menguburkannya hidup-hidup.
Ironisnya, pada saat yang sama mereka mengklaim bahwa malaikat adalah “anak-anak perempuan Allah”. Mereka membenci anak perempuan untuk diri mereka sendiri, tetapi justru menisbahkannya kepada Tuhan.
Kontradiksi inilah yang dibongkar Al-Qur’an. Jika menurut mereka anak perempuan adalah sesuatu yang rendah, mengapa mereka justru mengaitkannya dengan Allah? Dan jika Allah Mahasempurna, mengapa Dia harus diserupakan dengan kebutuhan biologis manusia yang memerlukan keturunan untuk menjaga keberlangsungan hidup?
Pertanyaan itu tetap relevan hingga hari ini. Bentuknya mungkin berubah, tetapi pola pikirnya masih sama: manusia sering memproyeksikan kelemahan dirinya kepada Tuhan.
Ketika manusia membutuhkan anak untuk melanjutkan garis keturunan, ia membayangkan Tuhan juga membutuhkan hal yang sama. Ketika manusia membutuhkan pendukung untuk mempertahankan kekuasaan, ia membayangkan Tuhan juga memerlukan pembantu. Ketika manusia membutuhkan pengakuan agar merasa berarti, ia membayangkan Tuhan juga membutuhkan pujian agar menjadi agung.
Padahal seluruh kebutuhan itu lahir dari keterbatasan manusia.
Pelajaran untuk Manusia Modern
Di era modern, penyembahan berhala mungkin tidak lagi berbentuk patung batu. Namun manusia tetap memiliki kecenderungan menciptakan “tuhan-tuhan kecil” dalam hidupnya: uang, popularitas, kekuasaan, teknologi, atau ideologi.
Semua itu dianggap mampu memberikan rasa aman dan kebahagiaan. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa setiap hal yang disembah selain Allah pada akhirnya mengecewakan. Kekayaan bisa lenyap. Jabatan bisa dicabut. Reputasi bisa runtuh dalam semalam.
Di tengah ketidakpastian itu, konsep *“al-matsal al-a‘la”* menghadirkan sebuah perspektif yang menenangkan: hanya Allah swt yang memiliki kesempurnaan mutlak. Hanya Dia yang tidak bergantung kepada siapa pun. Dan hanya Dia yang layak menjadi pusat orientasi hidup manusia.
Kesadaran ini bukan sekadar doktrin teologis. Ia membentuk cara pandang terhadap kehidupan. Manusia tidak lagi menjadikan kekuasaan sebagai ukuran kemuliaan. Tidak pula menjadikan harta sebagai standar keberhasilan. Sebab semua itu hanyalah bayangan yang fana.
Pada akhirnya, ayat ini mengajak manusia untuk menyadari batas akalnya sendiri. Kita dapat mengenal tanda-tanda kebesaran Allah, tetapi tidak dapat mengurung-Nya dalam definisi, gambaran, atau perumpamaan yang lahir dari dunia yang serba terbatas.
Karena ketika manusia mencoba menyamakan Tuhan dengan makhluk, yang terjadi bukanlah Tuhan menjadi lebih mudah dipahami. Justru manusia sedang mengecilkan sesuatu yang tak terbatas ke dalam ukuran dirinya yang sangat terbatas.
Dan di situlah pesan paling mendalam dari ayat ini: Allah memiliki perumpamaan tertinggi, sedangkan manusia hanya memiliki bayangan-bayangan yang tidak pernah mampu menjangkau kesempurnaan-Nya.
