Jebakan ‘Yes-Men’: Mengapa Pemimpin Hebat Harus Kebal Pujian?

17 views
Gambar Hanya Ilustrasi

ISLAM LIVE – Rasanya, kita semua menyadari bahwa setiap manusia memiliki ego. Ada bagian dari diri kita yang senang mendengar bahwa kita benar, hebat, atau memiliki pengaruh yang besar. Dalam konteks kepemimpinan; baik memimpin perusahaan, komunitas, maupun negara, keinginan untuk disanjung ini dapat berubah menjadi sebuah jebakan yang berbahaya.

Niccolò Machiavelli, dalam karya klasiknya The Prince, memberikan peringatan yang menarik. Menurutnya, ancaman terbesar bagi seorang pemimpin sering kali bukan datang dari musuh yang terang-terangan menyerang, melainkan dari orang-orang yang selalu mengatakan apa yang ingin didengarnya. Machiavelli menyebut mereka sebagai flatterers atau penjilat.

“Courts are always full of them and men are so ready to congratulate themselves on their achievements and to imagine themselves more successful than they are that it is hard not to fall into this error.” (The Prince, Bab 23, 93, terj. George Bull)

“Lingkungan istana selalu dipenuhi oleh orang-orang seperti itu (para penjilat), dan manusia sangat mudah merasa puas diri atas pencapaian mereka serta membayangkan diri mereka lebih sukses daripada kenyataannya, sehingga sulit untuk tidak jatuh ke dalam kekeliruan ini.”

Bagi Machiavelli, masalahnya bukan sebatas adanya orang-orang yang suka memuji. Yang lebih berbahaya adalah kenyataan bahwa kekuasaan secara alami menarik orang-orang yang ingin memperoleh keuntungan pribadi dengan cara menyenangkan hati pemimpin. Semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar juga kemungkinan ia hanya mendengar hal-hal yang ingin ia dengar. Akibatnya, seorang pemimpin perlahan kehilangan akses terhadap kenyataan.

Mencari Jalan Tengah

Namun Machiavelli juga tidak menyarankan seorang pemimpin menjadi sosok yang anti-kritik. Menutup diri dari masukan hanya akan membuat pemimpin terasing dari realitas. Sebaliknya, membiarkan setiap orang berbicara tanpa batas juga berisiko membuat kewibawaan dan arah kepemimpinan menjadi kabur. Karena itu ia menawarkan sebuah jalan tengah:

“So the sensible ruler must find a middle way, choosing intelligent men for ministers and giving them and only them the right to tell him the truth, and only on the issues he asks about, not in general.” (The Prince, Bab 23, hlm. 93, terj. George Bull)

“Oleh karena itu, penguasa yang bijak harus menemukan jalan tengah, dengan memilih orang-orang yang cerdas sebagai menterinya dan memberikan kepada mereka (dan hanya kepada mereka) hak untuk mengatakan kebenaran kepadanya, itu pun hanya terkait masalah-masalah yang ia tanyakan, bukan secara umum.”

Di sini terlihat bahwa Machiavelli sebenarnya sedang berbicara tentang bagaimana seorang pemimpin memperoleh pengetahuan yang benar. Ia tidak menyarankan pemimpin untuk menolak kritik, melainkan menciptakan mekanisme yang memungkinkan kebenaran tetap sampai kepadanya. Pemimpin yang bijak bukanlah mereka yang selalu mendengar pujian, melainkan mereka yang sengaja menyediakan ruang bagi orang-orang tertentu untuk berbicara jujur, meskipun kebenaran itu terasa tidak nyaman untuk didengar.

Baca Juga:  Thaumazein: Keheranan Yang Menjadi Awal Segala Kebijaksanaan

Ketika Pemimpin Kehilangan Filter

Machiavelli kemudian memberikan contoh Kaisar Maximilian. Menurutnya, sang kaisar gagal bukan karena kurangnya nasihat, melainkan karena tidak memiliki cara yang jelas dalam menerima dan mengelola nasihat tersebut.

Ia tidak terbiasa meminta masukan sejak awal, tetapi ketika kebijakannya mulai mendapat kritik, ia terlalu mudah mengubah keputusan. Akibatnya, tidak ada yang benar-benar memahami arah pemerintahannya.

Dalam hal ini, pelajaran yang ingin ditunjukkan Machiavelli rasanya cukup jelas, ya: kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin opini, melainkan kemampuan membedakan mana informasi yang berguna dan mana yang hanya mengaburkan kondisi terkini di lapangan. Hakikatnya, seorang pemimpin membutuhkan keterbukaan untuk mendengar kebenaran, tetapi juga keteguhan untuk mengambil keputusan.

Mengapa Penjilat Selalu Ada?

Bebicara soal penjilat, sebetulnya Machiavelli tidak terlalu optimistis terhadap sifat manusia, sih. Ia mengatakan  bahwa manusia pada dasarnya akan berusaha memanfaatkan situasi demi kepentingannya sendiri jika tidak ada mekanisme yang memaksa mereka untuk bersikap jujur. Dengan kata lain, keberadaan penjilat bukanlah penyimpangan dari kekuasaan, melainkan salah satu konsekuensi yang hampir selalu muncul ketika kekuasaan terkonsentrasi pada seseorang. Karena itu persoalannya bukan sebatas mencari penasihat yang baik. Persoalannya adalah bagaimana seorang pemimpin membangun lingkungan yang membuat kejujuran lebih dihargai daripada sanjungan.

Baca Juga:  Menjadi “Manusia Merdeka” di Ruang Kelas: Refleksi Mahasiswa di Tengah Rutinitas Akademik

Kebijaksanaan Tidak Datang dari Nasihat

Pada bagian akhir di chapter tentang tema flatterers, menurut saya, Machiavelli menyampaikan salah satu gagasan yang urgensitasnya patut kita dengar dan perhatikan.

“In conclusion: a ruler isn’t smart because he’s getting proper advice; on the contrary, it’s his good sense that makes the right advice possible.” (The Prince, 95, terj. George Bull)

“Kesimpulannya: seorang penguasa tidaklah cerdas karena ia mendapatkan nasihat yang tepat; sebaliknya, justru akal budinya yang baiklah yang membuat nasihat yang tepat itu menjadi mungkin.”

Kalimat ini membalik cara pandang yang umum. Kita sering menganggap keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh kualitas para penasihatnya. Namun menurut Machiavelli, justru kualitas pemimpinlah yang menentukan apakah nasihat yang baik dapat muncul dan digunakan secara efektif atau tidak. Karena, pemimpin yang tidak memiliki kebijaksanaan akan tetap tersesat, sekalipun dikelilingi oleh orang-orang pintar.

Relevansi di Era Echo Chamber

Di era media sosial, peringatan Machiavelli ini sepertinya cukup matching dengan keadaan. Algoritma digital sering kali memperlihatkan apa yang ingin kita lihat dan memperkuat apa yang sudah kita yakini. Akibatnya, seseorang dapat hidup dalam ruang gema (echo chamber) yang terus-menerus mengonfirmasi pandangannya sendiri.

Dalam situasi seperti ini, ancaman terbesar bagi seorang pemimpin bukanlah kritik yang terlalu keras, melainkan pujian yang terlalu sering. Kritik masih membuka jalan menuju kebenaran, sedangkan pujian yang terus-menerus perlahan memutus hubungan seseorang dengan realitas.

Pemimpin yang hebat bukanlah mereka yang dikelilingi oleh orang-orang yang selalu berkata “ya, siap!”, tetapi mereka yang mampu menciptakan ruang bagi kebenaran untuk disampaikan tanpa kehilangan kemampuan mengambil keputusan. Sebab pada akhirnya, sebagaimana diingatkan Machiavelli, kualitas suatu kepemimpinan tidak ditentukan oleh banyaknya pujian yang diterima, melainkan oleh kemampuan pemimpin untuk tetap melihat kenyataan apa adanya. (*)

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA