Mencari Makna Baqa di Tengah Dunia yang Fana

13 views

ISLAM LIVE – Ada kegelisahan yang diam-diam menghuni kehidupan modern: keinginan agar segala sesuatu bertahan lebih lama. Kita ingin usia panjang, karier yang stabil, hubungan yang langgeng, nama yang dikenang, bahkan jejak digital yang tak pernah hilang. Namun, setiap hari kenyataan justru mengajarkan hal sebaliknya. Waktu menggerus wajah, teknologi menjadi usang, bangunan runtuh, dan manusia berganti generasi. Di hadapan perubahan yang tak pernah berhenti itu, Islam memperkenalkan satu kata yang sederhana, tetapi sarat makna: baqa tetap ada, bertahan, kekal.

Kata ini menjadi lawan dari fana, lenyap atau sirna. Sesuatu disebut baqi ketika ia tetap berada dalam keadaan yang semestinya, tidak hilang oleh perubahan. Namun, ketika Al-Qur’an dan tradisi Islam berbicara tentang baqa, pembahasannya tidak berhenti pada persoalan umur panjang atau keberlangsungan fisik. Ia justru mengajak manusia bertanya lebih dalam: apa sebenarnya yang layak diperjuangkan untuk tetap tinggal ketika semua yang lain akan pergi?

Dalam bahasa Arab, hanya ada satu wujud keberadaan yang benar-benar kekal dengan sendirinya, yaitu Allah. Keberadaan-Nya tidak bergantung kepada siapa pun, tidak dibatasi waktu, dan tidak mungkin disentuh oleh kefanaan. Segala sesuatu selain-Nya bertahan hanya karena Dia menghendakinya tetap ada. Dengan kata lain, tidak ada makhluk yang memiliki keabadian sebagai sifat bawaan.

Kesadaran ini mengubah cara manusia memandang dunia. Apa yang terlihat kokoh ternyata hanya bertahan untuk sementara. Gunung yang tampak abadi suatu saat akan berubah. Bintang-bintang yang menghiasi langit pun memiliki masa hidupnya sendiri. Bahkan manusia, makhluk yang paling sibuk mengejar keabadian melalui karya, keluarga, atau kekuasaan, pada akhirnya akan menyerahkan semuanya kepada waktu.

Namun, kefanaan bukan berarti segala sesuatu tidak bernilai. Justru di sinilah letak kebijaksanaan Islam. Ada makhluk yang tetap lestari sebagai individu hingga Allah menghendaki akhirnya. Langit dan benda-benda langit adalah contoh yang disebut para ulama. Ada pula yang bertahan bukan pada sosok individunya, melainkan pada jenisnya. Manusia terus lahir silih berganti. Individu pergi, tetapi spesies tetap hidup. Demikian pula hewan dan tumbuhan. Kehidupan berlangsung melalui pergantian, bukan melalui keabadian pribadi.

Baca Juga:  Membelah Jiwa yang Bisu: Anatomi Musyrik dan Mukmin dalam Cermin Kitab Suci

Di titik ini, Al-Qur’an membawa pandangan manusia melampaui dunia. Kehidupan akhirat digambarkan sebagai ruang yang berbeda. Penghuni surga hidup dalam keabadian yang tidak lagi dibatasi waktu. Allah berfirman,

خَالِدِينَ فِيهَا

“Mereka kekal di dalamnya” (QS. Al-Baqarah: 162)

Keabadian di sini bukan sekadar umur yang sangat panjang, melainkan keberadaan tanpa akhir. Tidak ada lagi ancaman kematian, penuaan, atau kehilangan. Sebuah keadaan yang selama ini hanya menjadi impian manusia.

Menariknya, keabadian di akhirat juga memiliki wajah yang dinamis. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa buah-buahan surga akan kembali tumbuh setiap kali dipetik. Kenikmatan tidak pernah habis meski terus dinikmati. Surga bukan museum yang beku, melainkan kehidupan yang terus memberi tanpa pernah kehilangan.

Karena itu, Al-Qur’an mengingatkan,

وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal” (QS. Al-Qashash: 60)

Ayat ini seolah membalik logika manusia. Kita sering mengira bahwa yang berada dalam genggaman adalah yang paling berharga. Padahal, apa yang kita simpan bisa hilang kapan saja. Harta menyusut, jabatan berpindah tangan, popularitas memudar. Sebaliknya, apa yang disimpan di sisi Allah justru menjadi investasi yang tidak pernah mengalami kerugian.

Dari sinilah lahir konsep yang indah dalam Al-Qur’an, yaitu al-baqiyat ash-shalihat.

وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“Amal-amal kebajikan yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan” (QS. Al-Kahfi: 46)

Para ulama pernah menafsirkannya sebagai shalat lima waktu. Sebagian lagi memaknainya sebagai zikir seperti Subhanallah dan Alhamdulillah. Namun, makna yang paling luas dan paling mendalam adalah bahwa semua amal yang dilakukan dengan tulus demi mencari ridha Allah termasuk dalam kategori ini.

Baca Juga:  Dunia Hanya Sementara (Bagian 1): Ketika Al-Qur'an Mengibaratkan Dunia Seperti Hujan yang Segera Mengering

Dengan demikian, keabadian ternyata bukanlah soal lamanya sesuatu bertahan, melainkan apakah nilainya tetap hidup setelah pelakunya tiada.

Seorang guru yang mengajarkan ilmu dengan ikhlas mungkin telah meninggal puluhan tahun lalu, tetapi ilmunya terus mengalir melalui murid-muridnya. Seorang ibu yang mendidik anak dengan kasih sayang meninggalkan warisan karakter yang hidup jauh melampaui usianya. Sebuah sedekah kecil yang menyelamatkan kehidupan orang lain bisa menjadi amal yang terus tumbuh ketika nama pemberinya telah lama terlupakan.

Dalam konteks yang lebih luas, gagasan baqa mengoreksi cara kita mengukur keberhasilan. Dunia modern sering mengajarkan bahwa kesuksesan diukur dari seberapa besar yang berhasil dikumpulkan. Islam justru menggeser pertanyaan itu menjadi: apa yang akan tetap tinggal setelah kita pergi?

Pertanyaan ini terasa semakin relevan ketika kehidupan bergerak begitu cepat. Media sosial membuat popularitas datang dan hilang hanya dalam hitungan jam. Berita besar hari ini menjadi arsip besok pagi. Bahkan pencapaian yang dulu terasa monumental perlahan tenggelam oleh gelombang informasi baru. Semua bergerak menuju kefanaan.

Di tengah arus itu, Al-Qur’an menawarkan orientasi yang berbeda. Kehidupan bukan perlombaan mengumpulkan sebanyak mungkin hal yang akan lenyap, tetapi kesempatan menanam sesuatu yang akan terus hidup. Kebaikan yang tulus, ilmu yang bermanfaat, doa, ibadah, kepedulian kepada sesama, dan setiap amal yang diniatkan karena Allah adalah bagian dari al-baqiyat ash-shalihat bekal yang tidak habis dimakan waktu.

Pada akhirnya, manusia memang tidak dapat menghindari kefanaan. Tubuh akan menua, usia akan selesai, dan dunia akan terus berganti wajah. Tetapi selalu ada kemungkinan untuk menghadirkan sesuatu yang lebih kuat daripada usia: amal yang terus hidup, nilai yang terus menginspirasi, dan jejak kebaikan yang tidak ikut terkubur bersama jasad. Mungkin itulah makna terdalam dari baqa: bukan hidup selamanya di dunia, melainkan memastikan bahwa ketika dunia selesai bagi kita, masih ada kebaikan yang tetap tinggal.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA