ISLAM LIVE – Ada perbedaan besar antara berjalan dan mengikuti. Orang bisa berjalan ke mana saja, tetapi hanya mereka yang mengikuti jejak tertentu yang tahu mengapa langkahnya diarahkan ke sana. Dalam kehidupan, barangkali persoalan manusia bukan terutama karena ia tidak bergerak, melainkan karena ia terlalu mudah mengikuti.
Kata Arab تَبِعَ tabi’a pada mulanya berarti mengikuti jejak seseorang. Ia menggambarkan gerak yang sederhana: seseorang berada di belakang yang lain, menapaki jalan yang telah lebih dahulu dilalui. Tetapi dari makna yang tampak fisik itu, kata ini berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam. Mengikuti bukan hanya soal posisi tubuh, melainkan juga tentang sikap batin; menerima petunjuk, menaati, meneladani, bahkan menyerahkan arah hidup kepada sesuatu yang dianggap layak dipercaya.
Karena itu Al-Qur’an tidak pernah memperlakukan tindakan “mengikuti” sebagai perkara sepele. Ada sesuatu yang selalu menyertai pertanyaan: siapa yang kita ikuti?
Allah berfirman:
فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidak pula bersedih” (QS. Al-Baqarah: 38)
Ayat itu seolah mengingatkan bahwa manusia memang tidak pernah benar-benar hidup tanpa mengikuti. Kita mengikuti seseorang, gagasan, kebiasaan, ambisi, kelompok, tokoh, bahkan suasana zaman. Yang membedakan bukan ada atau tidaknya sesuatu yang diikuti, melainkan apakah jejak yang kita ikuti membawa kita kepada keselamatan atau justru menjauhkan kita dari diri sendiri.
Di titik ini, makna tabi’a menjadi menarik. Mengikuti petunjuk bukan sekadar mengetahui bahwa sebuah jalan benar. Ia menuntut keberanian untuk menapakinya.
Sebab mengetahui arah dan berjalan ke arah itu adalah dua hal yang berbeda.
Seseorang bisa tahu bahwa kejujuran itu baik, tetapi tetap mengikuti kepentingan ketika kejujuran membuatnya rugi. Ia bisa tahu bahwa kesabaran adalah kebajikan, tetapi mengikuti kemarahan ketika dirinya tersinggung. Ia bisa mengetahui batas antara yang benar dan yang salah, namun memilih mengikuti hawa nafsu karena jalan yang salah terasa lebih mudah.
Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan yang sangat jelas:
وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Shad: 26)
Hawa nafsu dalam konteks ini bukan semata-mata keinginan duniawi. Ia bisa menjadi segala dorongan dalam diri yang membuat manusia menjadikan keinginannya sendiri sebagai ukuran kebenaran. Ketika itu terjadi, seseorang tidak lagi mencari jalan yang benar. Ia mencari jalan yang membenarkan dirinya.
Itulah sebabnya Al-Qur’an juga memperingatkan manusia agar tidak mengikuti langkah-langkah setan:
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ
“Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan” (QS. Al-Baqarah: 168)
Menarik bahwa yang disebut bukan hanya “jalan setan”, melainkan langkah-langkahnya. Ada proses di dalam kesesatan. Jarang seseorang jatuh sekaligus ke jurang yang dalam. Biasanya ia dimulai dengan satu langkah kecil, kemudian langkah berikutnya, lalu terbiasa. Apa yang mula-mula terasa asing perlahan menjadi normal.
Dalam kehidupan modern, proses semacam itu berlangsung semakin halus. Seseorang tidak selalu sadar bahwa ia sedang mengikuti. Ia hanya membuka layar, membaca sesuatu, menyukai sesuatu, mengulanginya, lalu perlahan berpikir dengan cara yang sama. Algoritma menentukan apa yang dilihat, kerumunan menentukan apa yang dianggap penting, dan popularitas menentukan apa yang dianggap benar.
Kita hidup dalam zaman ketika begitu banyak orang ingin menjadi pemimpin, tetapi pada saat yang sama begitu banyak manusia kehilangan kemampuan untuk memilih siapa yang layak diikuti.
Padahal Al-Qur’an memberikan gambaran lain tentang mengikuti. Dalam kisah Nabi Musa a.s, misalnya, seorang hamba meminta izin kepada Khidir a.s untuk mengikutinya demi memperoleh ilmu:
هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk?” (QS. Al-Kahfi: 66)
Di sana, mengikuti lahir dari kerendahan hati. Orang yang mengikuti bukan orang yang merasa paling tahu. Ia justru sadar bahwa ada sesuatu yang belum ia pahami.
Namun mengikuti juga tidak berarti kehilangan akal. Al-Qur’an menyebut pula larangan mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan. Dalam banyak ayat, manusia diajak untuk mempertimbangkan, memahami, dan membedakan. Dengan demikian, tabi’a bukan kepatuhan buta. Ia adalah pilihan sadar untuk menempatkan langkah di belakang sesuatu yang lebih benar daripada dorongan sesaat dalam diri.
Bahkan ketika Al-Qur’an berbicara tentang orang-orang yang mengikuti para rasul, yang ditekankan bukan keuntungan material. Dalam Surah Yasin dikatakan:
اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Ikutilah mereka yang tidak meminta imbalan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Yasin: 21)
Seolah ada ukuran sederhana yang ditawarkan: lihat ke mana seseorang membawa kita, apa yang ia minta sebagai imbalan, dan apakah jejak yang ditinggalkannya membuat kita semakin dekat kepada kebenaran atau semakin bergantung kepada dirinya.
Sebab setiap manusia pada akhirnya adalah pengikut sebelum ia menjadi apa pun yang lain. Bahkan orang yang merasa paling mandiri pun sedang mengikuti sesuatu: ambisi, gengsi, ketakutan, uang, pengakuan, ideologi, atau keinginan untuk diterima.
Pertanyaannya hanya satu: jejak siapa yang sedang kita tapaki?
Di tengah dunia yang semakin bising, kemampuan memilih jejak mungkin justru menjadi bentuk kebijaksanaan yang paling sunyi. Tidak semua yang ramai layak diikuti. Tidak semua yang berada di depan pantas dijadikan arah. Dan tidak setiap jalan yang ditempuh banyak orang berakhir di tempat yang benar.
Barangkali hidup memang seperti berjalan di belakang seseorang dalam sebuah perjalanan panjang. Kita tidak selalu mampu melihat seluruh jalan. Yang dapat kita pastikan hanyalah apakah jejak di depan kita membawa kepada cahaya atau semakin menjauh darinya.
Karena itu, persoalan terbesar manusia bukan sekadar ke mana ia berjalan, melainkan siapa atau apa yang ia izinkan menentukan langkahnya.
Pada akhirnya, setiap langkah meninggalkan jejak. Dan setiap jejak, cepat atau lambat, akan menunjukkan kepada siapa kita sebenarnya memilih untuk mengikuti.
