ISLAM LIVE- Apakah kita pernah merenung bagaimana alam semesta yang begitu luas dan kompleks ini bermula?
Dalam tradisi mistisisme Islam, khususnya pemikiran Ibn ‘Arabi, ada sebuah konsep yang dikenal dengan Nafas al-Rahmani. Sebetulnya, konsep ini jika dijabarkan secara rinci tentu tidak cukup hanya dengan satu atau dua kaca halaman artikel ini. Bagi saya, ketika mengkaji tentang Nafas al-Rahmani ini begitu banyak plot twist yang membuat saya amaze membaca paparan Ibn ‘Arabi dan para pensyarahnya, luar biasa istimewa dengan susunan diksi-diksi ‘sakral’ dan futuristik. Tapi dalam tulisan ini, saya hanya ingin menjelaskan sempalannya saja untuk mengenalkan sedikit soal Nafas al-Rahmani. Konsep ini tidak merujuk pada napas biologis, melainkan bentuk metafora spiritual untuk menjelaskan bagaimana realitas Tuhan yang tidak terbatas bermanifestasi menjadi dunia yang kita lihat hari ini.
Landasan Ilahi: Hidup dari Hembusan Ruh
Konsep metaforis ini tidak lahir tanpa dasar. Ibn ‘Arabi membangunnya dari isyarat-isyarat Al-Qur’an tentang penciptaan dan kehidupan. Kehidupan di dunia ini pada hakikatnya adalah anugerah langsung dari Tuhan. Al-Qur’an memberikan isyarat mengenai proses penciptaan manusia yang berlaku sebagai prinsip dasar penciptaan semesta.
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al-Hijr [15]: 29)
Ayat ini salah satunya menjadi landasan bahwa setiap wujud yang ada di alam semesta ini ‘dihidupkan’ oleh hembusan ruh dari Allah. Inilah yang menjadi akar dari konsep Nafas al-Rahmani. Ibn ‘Arabi memandang bahwa seluruh makhluk hidup di alam semesta ini eksis karena adanya hembusan atau tiupan ilahi tersebut. Segala sesuatu yang kita lihat, baik dari atom terkecil hingga galaksi terjauh pun semuanya ditiupkan oleh Allah melalui Nafas al-Rahmani. Dalam tulisannya, ia menegaskan bahwa sebab kehidupan dari segala sesuatu yang tercipta tidak lain adalah karena tiupan ini.
وقد عرفنا الحق أن سبب الحياة في صور المولدات إنما هو النفخ الإلهي في قوله فإذا سويته ونفخت فيه من روحي وهو النفس الذي أحيا الله به الإيمان فأظهره
“Dan telah kami ketahui dengan sebenar-benarnya bahwa sebab kehidupan dalam bentuk-bentuk makhluk yang tercipta tidak lain adalah tiupan Ilahi sebagaimana firman-Nya: ‘Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku’. Dan itulah Nafas yang dengannya Allah menghidupkan keimanan lalu menampakkannya.” (al-Futuhat al-Makkiyah, Juz 1, 168).
Tiupan Ilahi dalam konteks ini tidak hanya dipahami sebagai peristiwa pada awal penciptaan manusia, tetapi juga sebagai prinsip yang terus menopang keberadaan seluruh alam. Selama tiupan itu terus berlangsung, seluruh makhluk tetap berada dalam keberadaan yang dikehendaki Allah.
Nafas al-Rahmani dalam Perjalanan Spiritual
Namun, bagi Ibn ‘Arabi, Nafas al-Rahmani tidak berhenti pada penjelasan tentang asal-usul alam saja. Konsep ini juga memiliki makna yang sangat penting dalam perjalanan spiritual manusia menuju Allah. Khusus seorang pejalan spiritual (salik), memahami Nafas al-Rahmani adalah perjalanan untuk kembali kepada Sang Pencipta. Ibn ‘Arabi mengaitkan seorang pejalan spiritual terhadap hakikat gaib dengan kisah Nabi Ayub. Salik yang merasa terhijab dari hakikat kebenaran akan memohon kepada Allah agar hijab tersebut disingkapkan.
بل يصوره ابن عربي بصورة السالك إلى الله الباحث عن العلم اليقيني بعالم الغيب فهو يدعو الله أن يكشف عنه ضره فيكشف الله عنه ضره بأن يريه مغتسل الماء الذي تحت قدميه ويأمره بأن يغتسل فيه فلما اغتسل أيوب بالماء ذهب عنه ضره لأنه رفع عنه الحجاب وظهر له الطريق إلى الله
“Bahkan, Ibn ‘Arabi menggambarkannya dalam sosok seorang salik (penempuh jalan) menuju Allah yang sedang mencari ilmu yaqin (pengetahuan yang meyakinkan) mengenai alam gaib. Maka ia berdoa kepada Allah agar menyingkapkan darinya kemudaratannya, lalu Allah menyingkapkan darinya kemudaratannya dengan memperlihatkan kepadanya tempat mandi air yang berada di bawah kakinya dan memerintahkannya untuk mandi di dalamnya. Ketika Ayub mandi dengan air tersebut, hilang kemudaratannya karena hijab (penghalang) telah diangkat darinya dan tampaklah baginya jalan menuju Allah” (Fusus al-Hikam, Juz 2, 234).
Dalam pembacaan isyari Ibn ‘Arabi, air dalam kisah ini adalah simbol dari Nafas al-Rahmani. Sumber kehidupan sejatinya berada sangat dekat dengan diri kita, bahkan dianalogikan berada di bawah kaki kita sendiri. Namun kedekatan itu sering kali luput disadari karena mata hati masih tertutup oleh hijab. Hijab ini maknanya tentu sangat luas. Tapi apapun yang menghalangi kita untuk dekat dengan Allah, sederhananya itu adalah hijab.
Maka, pembahasan tentang Nafas al-Rahmani memberikan pemahaman bahwa alam semesta tentunya tidak berdiri sendiri. Seluruh keberadaannya senantiasa bergantung pada limpahan kasih sayang Allah yang terus-menerus menghidupkannya. Semuanya bernapas dengan kasih sayang Allah. Setiap detak jantung makhluk hidup dan setiap pergerakan alam semesta adalah hembusan dari Nafas-Nya. Dengan memahami konsep ini, kita diajak oleh Ibn ‘Arabi untuk tidak lagi melihat dunia sebagai sesuatu yang terpisah dari Tuhan, melainkan sebagai cermin tempat kasih sayang-Nya yang selalu memancar kepada seluruh makhluk. Tinggal bagaimana manusia membersihkan hatinya agar mampu menyaksikan pancaran tersebut dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati.
