ISLAM LIVE – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyoroti kewajiban sosial masyarakat yang berada di wilayah aman dari bencana erupsi Gunung Anak Krakatau. Menurut Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh, mereka yang tidak terdampak langsung tetap menghadapi ujian berupa sejauh mana kepedulian terhadap korban diwujudkan .
“Kita hari ini sehat, segar, bugar, masih bisa menikmati aktivitas rutin dan memperoleh rezeki dari kerja-kerja profesional kita. Saatnya kita bangun empati, kita sisihkan sebagian rezeki untuk kepentingan meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa musibah,” ujar Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh, Ketua MUI Bidang Fatwa, di Jakarta, Senin (7/9/2026) .
Prof Ni’am mengingatkan perumpamaan dari Rasulullah SAW tentang keterikatan antarsesama manusia yang saling mengasihi ibarat satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka seluruh tubuh akan merasakannya hingga tidak bisa tidur semalaman . “Apa yang menimpa saudara-saudara kita di daerah terdampak bencana adalah panggilan bagi kita semua untuk mengulurkan tangan,” tegasnya .
Di samping bantuan materi, Prof Ni’am menegaskan bahwa ikhtiar menghadapi bencana perlu dilengkapi dengan pendekatan spiritual. Zikir, doa, tobat, dan muhasabah menjadi bagian dari upaya batin untuk memohon perlindungan Allah SWT di tengah berbagai ujian dan musibah . “Masyarakat diimbau untuk memperbanyak zikir, doa, tobat, serta muhasabah (introspeksi diri) agar selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT,” tuturnya .
Pesan MUI tersebut menempatkan mitigasi bencana dalam perspektif keislaman secara utuh: menghindari risiko dengan ilmu dan kewaspadaan, membantu mereka yang terdampak, sekaligus memperkuat ikhtiar spiritual. MUI mengingatkan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana menyelamatkan diri, tetapi juga bagaimana memastikan tidak ada saudara yang menghadapi musibah seorang diri .
