ISLAM LIVE – Ada jarak yang sering luput kita sadari antara membaca dan mengikuti. Seseorang dapat membaca sebuah nasihat setiap hari, menghafalnya di luar kepala, bahkan mengulanginya dengan suara yang indah tanpa pernah benar-benar membiarkan nasihat itu mengubah langkahnya.
Di dalam Al-Qur’an, jarak itu dijelaskan oleh sebuah kata yang tampak sederhana: تلاوة tilawah. Kata ini sering diterjemahkan sebagai “membaca”. Namun maknanya ternyata lebih dalam. Tilāwah bukan sekadar aktivitas mata yang mengikuti baris-baris tulisan atau lidah yang mengucapkan huruf demi huruf. Ia mengandung makna mengikuti, meneladani, dan berjalan di belakang sesuatu dengan tidak menyimpang darinya.
Karena itu, tidak setiap قراءة qira’ah bacaan dapat disebut tilawah. Setiap tilawah memang merupakan bacaan, tetapi tidak setiap bacaan adalah tilawah. Ada sesuatu yang dituntut setelah bacaan itu selesai: kepatuhan.
Dalam bahasa Arab, kata تَلَا talā pada dasarnya berarti mengikuti. Mengikuti sesuatu dapat terjadi secara fisik, ketika seseorang berjalan di belakang orang lain. Tetapi ia juga dapat berlangsung dalam bentuk yang lebih halus: mengikuti pendapat, hukum, petunjuk, atau jalan yang ditempuh seseorang. Di sinilah tilawah menemukan kedalaman maknanya ketika digunakan untuk Al-Qur’an.
Al-Qur’an tidak sekadar dibaca. Ia diikuti.
Gambaran yang indah tentang makna mengikuti itu dapat ditemukan dalam ayat tentang matahari dan bulan:
وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا
“Demi bulan ketika mengiringinya”
(QS. Asy-Syams: 2)
Bulan mengikuti matahari. Ia tidak memiliki cahaya sendiri, melainkan memantulkan cahaya yang diterimanya. Dalam gambaran ini terdapat sebuah perumpamaan yang menarik: yang datang kemudian tidak selalu berarti lebih rendah dalam nilai, tetapi ia memperoleh arah dan cahayanya dari sesuatu yang menjadi sumber sebelumnya.
Gagasan serupa muncul dalam cara Al-Qur’an menggambarkan matahari dan bulan sebagai dua bentuk cahaya. Matahari disebut ضياء dhiya`, cahaya yang memancar, sedangkan bulan disebut نور nur, cahaya yang diterima. Dalam pengertian bahasa yang digunakan teks klasik, setiap dhiya` adalah cahaya, tetapi tidak setiap cahaya merupakan dhiya`. Ada cahaya yang menjadi sumber, ada pula cahaya yang hidup karena menerima pancaran.
Di titik ini, tilawah menjadi lebih dari sekadar istilah kebahasaan. Ia mengandung gambaran tentang manusia yang mencari arah dengan mengikuti sumber cahaya.
Itulah sebabnya Al-Qur’an menggunakan kata tilawah secara khas untuk kitab-kitab wahyu. Ketika seseorang membaca Al-Qur’an, aktivitas itu disebut tilawah karena bacaan tersebut seharusnya membawa konsekuensi: mengikuti perintahnya, menjauhi larangannya, menerima peringatannya, dan menanggapi ajakannya.
Allah berfirman:
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
“Dan apabila ayat-ayat-Nya dibacakan kepada mereka, bertambahlah keimanan mereka”
(QS. Al-Anfal: 2)
Ayat itu menghadirkan sebuah gerak batin. Ayat dibacakan, lalu sesuatu di dalam diri bergerak. Iman bertambah. Dengan demikian, bacaan bukan tujuan akhir. Bacaan menjadi pintu menuju perubahan.
Al-Qur’an juga memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk membacakan apa yang diwahyukan kepadanya:
وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ
“Dan bacakanlah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Kitab Tuhanmu”
(QS. Al-Kahf: 27)
Perintah itu tidak berhenti pada suara. Sebab wahyu bukan sekadar teks yang harus dilafalkan. Ia adalah petunjuk yang harus ditempuh.
Maka ungkapan Al-Qur’an yang mungkin paling kuat untuk memahami makna ini adalah:
يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ
“Mereka membacanya dengan sebenar-benarnya bacaan”
(QS. Al-Baqarah: 121)
“Bacaan yang sebenar-benarnya” dalam pemaknaan yang lebih luas bukan hanya ketepatan pelafalan. Ia mencakup ilmu dan amal: mengetahui apa yang dibaca, kemudian membiarkan pengetahuan itu bekerja dalam kehidupan.
Di sinilah persoalan tilawah menjadi relevan bagi manusia modern.
Kita hidup dalam zaman yang sangat akrab dengan bacaan. Informasi datang tanpa henti. Kutipan berseliweran di layar telepon. Nasihat agama dapat ditemukan dalam hitungan detik. Ayat-ayat Al-Qur’an dibagikan ribuan kali, kadang dengan gambar yang indah dan suara yang menyentuh.
Namun semakin mudah sesuatu dibaca, semakin penting pertanyaan tentang apa yang terjadi setelahnya.
Apa gunanya membaca tentang keadilan jika kita tetap nyaman dengan ketidakadilan? Apa arti membaca tentang kasih sayang jika lidah kita mudah melukai? Apa makna membaca larangan kesombongan jika pengetahuan agama justru membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain?
Barangkali di situlah perbedaan antara membaca dan tilawah menjadi sangat penting.
Membaca berhenti ketika halaman selesai. Tilawah justru dimulai ketika bacaan selesai; ketika ayat meninggalkan kertas dan memasuki perilaku.
Dalam pengertian ini, seseorang yang benar-benar melakukan tilawah sedang membangun hubungan yang hidup dengan wahyu. Ia bukan hanya bertanya, “Apa yang dikatakan ayat ini?” tetapi juga, “Ke mana ayat ini sedang membawaku?”
Sebab mengikuti selalu membutuhkan gerak.
Bulan mengiringi matahari. Seorang murid mengikuti gurunya. Seorang manusia mengikuti jalan yang diyakininya benar. Dan seorang pembaca Al-Qur’an semestinya membiarkan dirinya dituntun oleh apa yang dibacanya.
Namun ada satu bahaya yang juga disinggung dalam penggunaan kata ini: sesuatu dapat disebut sebagai bacaan atau bahkan diklaim sebagai ajaran, padahal ia merupakan kebohongan. Karena itu Al-Qur’an mengingatkan tentang orang-orang yang “mengatakan kebohongan terhadap Allah”. Tidak semua yang dibacakan atas nama Tuhan otomatis berasal dari Tuhan.
Maka tilawah juga menuntut ketulusan dan kebenaran.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting bukan berapa banyak halaman Al-Qur’an yang telah kita baca, melainkan sejauh mana ayat-ayat itu telah kita ikuti. Sebab sebuah kitab suci tidak diturunkan hanya untuk memenuhi ingatan, menghiasi suara, atau menjadi rutinitas bibir.
Ia diturunkan agar manusia menemukan arah.
Dan mungkin, seperti bulan yang memperoleh cahayanya dengan mengikuti matahari, manusia pun hanya akan menemukan cahayanya ketika ia bersedia mengikuti petunjuk yang benar-benar menerangi hidupnya.
Di situlah tilawah berhenti menjadi sekadar bacaan. Ia berubah menjadi perjalanan.
