ISLAM LIVE – Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, mengungkapkan pendidikan holistik menjadi salah satu kunci utama pesantren tersebut mampu bertahan dan berkembang hingga memasuki usia satu abad. Sistem pendidikan Gontor tidak hanya menekankan pembelajaran formal di ruang kelas, tetapi memadukan pendidikan formal, nonformal, dan informal dalam lingkungan pesantren selama 24 jam .
“Di pesantren itu saya yakin, holistik pendidikannya. Orang banyak mendapatkan sesuatu di situ,” ujar Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, dalam SAJID Friday Morning Talk di AQL Islamic Center, Jakarta, Jumat (4/9/2026) .
Hamid menjelaskan, gagasan pendidikan Gontor bermula dari keinginan tiga bersaudara pendiri (Trimurti) untuk menghadirkan model pendidikan berbeda dari tradisi pesantren pada masanya. Mereka ingin mencetak ulama yang memiliki kemampuan intelektual sekaligus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan dasar keagamaannya. Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui sistem Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) yang memadukan pendidikan agama dengan ilmu pengetahuan umum .
Menurut Hamid, kekuatan Gontor bukan semata-mata terletak pada sistem pendidikan formalnya. KMI kemudian disatukan dengan kehidupan pesantren dan asrama sehingga seluruh aktivitas santri menjadi bagian dari proses pendidikan. “Jadi pesantren itu punya nilai. Di dalam pesantren itu ada sistem kehidupan yang tidak dimiliki oleh sekolah,” katanya . Kehidupan asrama berfungsi seperti keluarga sekaligus masyarakat kecil, melatih santri untuk bersosialisasi, menghargai perbedaan, serta menumbuhkan jiwa nasionalisme dan ukhuwah Islamiyah .
