ISLAM LIVE – Ada sesuatu yang ganjil dalam kata turab تراب: tanah atau debu. Ia begitu sederhana, begitu dekat dengan telapak kaki, tetapi dalam Al-Qur’an kata ini membawa manusia pada pertanyaan yang jauh lebih besar: dari mana kita berasal, ke mana kita kembali, dan apa yang sebenarnya membuat seseorang kaya atau miskin?
Tanah tidak pernah tampak istimewa. Ia diinjak, diterbangkan angin, melekat pada pakaian, lalu dibersihkan begitu saja. Namun manusia, makhluk yang kerap merasa tinggi karena harta, kedudukan, dan pengetahuan, justru disebut berasal dari benda yang paling rendah di hadapan mata.
Al-Qur’an mengingatkan asal itu dengan kalimat yang sederhana:
خَلَقَكُمْ مِنْ تُرابٍ
“Dia menciptakan kalian dari tanah” (QS. Fathir: 11)
Pada ayat lain, keraguan manusia tentang kebangkitan digambarkan melalui pertanyaan:
أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا ۖ ذَٰلِكَ رَجْعٌ بَعِيدٌ
“Apakah setelah kami mati dan menjadi tanah, kami akan dibangkitkan?” (QS. Qaf: 3))
Tanah, dengan demikian, bukan sekadar materi. Ia menjadi semacam cermin tempat manusia melihat dirinya sendiri. Kita datang dari tanah, hidup di atas tanah, dan pada akhirnya kembali kepadanya. Apa pun yang hari ini membuat seseorang merasa besar, pada akhirnya akan kehilangan daya ketika tubuh tak lagi mampu berdiri.
Karena itu pula ada ungkapan Al-Qur’an yang terasa sangat manusiawi:
يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَاباً
“Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu menjadi tanah” (QS an-Naba’: 40)
Kalimat itu muncul dalam gambaran tentang penyesalan manusia pada hari akhir. Ketika seluruh kesombongan runtuh, seseorang bahkan berharap dirinya dulu hanyalah tanah. Ada ironi yang tajam di sana: selama hidup, manusia berusaha meninggalkan tanah dan meninggikan dirinya; pada hari ketika semuanya tersingkap, ia justru ingin kembali menjadi tanah.
Namun kata turab tidak berhenti pada asal-usul manusia. Dari akar yang sama lahir ungkapan yang menggambarkan kemiskinan: تَرِبَ tariba, yakni menjadi miskin, seakan-akan seseorang begitu papa hingga tubuhnya melekat pada tanah.
Al-Qur’an menyebut salah satu golongan yang membutuhkan pertolongan dengan ungkapan:
مِسْكِيناً ذا مَتْرَبَةٍ
“orang miskin yang berada dalam keadaan sangat papa” (QS. Al-Balad: 16)
Seolah-olah tidak memiliki apa-apa selain tanah.
Di sini bahasa Arab memperlihatkan ketajaman yang sering hilang dalam terjemahan. Kemiskinan tidak sekadar berarti kekurangan angka dalam rekening. Ia digambarkan sebagai keadaan seseorang yang begitu dekat dengan tanah karena tak lagi memiliki sesuatu untuk menopang dirinya. Tubuhnya seakan kembali ke titik paling dasar kehidupan.
Menariknya, dari akar yang sama muncul kata أَتْرَبَ atraba, yang berarti menjadi berkecukupan atau kaya. Seolah-olah seseorang memiliki harta sebanyak tanah yang ada. Dalam satu akar kata, bahasa mempertemukan dua keadaan yang berlawanan: orang yang begitu miskin hingga bersentuhan dengan tanah dan orang yang memiliki kekayaan berlimpah.
Tetapi pertemuan itu justru menyimpan pesan filosofis. Tanah tidak pernah memilih siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Ia menerima keduanya. Di atasnya berdiri istana dan gubuk. Di atasnya berjalan raja dan pengemis. Pada akhirnya, keduanya memiliki alamat yang sama.
Gagasan tentang tanah juga hadir dalam sebuah nasihat Nabi Muhammad saw yang sangat terkenal ketika seseorang hendak memilih pasangan hidup. Dalam hadis sahih disebutkan:
فاظفر بذات الدين تربت يداك
“Utamakanlah perempuan yang memiliki agama; niscaya engkau akan beruntung”
Ungkapan tarribat yadāka secara harfiah berkaitan dengan “tanganmu terkena tanah”. Namun dalam konteks hadis, ia merupakan ungkapan bahasa Arab yang bermakna peringatan atau dorongan yang kuat: jangan sampai pilihanmu terhadap pasangan membuatmu kehilangan sesuatu yang lebih mendasar. Dalam hadis tersebut, Nabi saw menempatkan agama sebagai pertimbangan utama di tengah berbagai daya tarik yang biasanya membuat manusia terpikat, harta, keturunan, dan kecantikan.
Tanah, sekali lagi, menjadi bahasa yang mengingatkan manusia tentang apa yang mudah dilupakan.
Dalam kehidupan modern, kita mungkin tidak lagi mengukur kemiskinan dari seberapa sering telapak kaki menyentuh tanah. Kita menghitungnya dengan pendapatan, aset, kepemilikan rumah, saldo rekening, atau akses terhadap fasilitas. Tetapi kegelisahan manusia tetap sama. Kita terus mengejar kekayaan seakan-akan harta dapat membuat kita aman dari kefanaan.
Di titik ini, turab mengajarkan sesuatu yang lebih sunyi. Kekayaan bukan hanya tentang berapa banyak yang berhasil dikumpulkan, sebagaimana kemiskinan bukan semata-mata tentang sedikitnya yang dimiliki. Ada manusia yang memiliki banyak tetapi hidup dalam kekosongan. Ada pula yang sederhana tetapi tidak merasa kehilangan martabatnya.
Tanah tidak berbicara. Ia hanya diam di bawah kaki kita. Tetapi mungkin justru karena diam itulah ia menyimpan pelajaran yang paling keras: manusia boleh membangun setinggi apa pun, tetapi asal-usulnya tetap rendah.
Kita mungkin menghabiskan hidup untuk menjauh dari debu. Membeli pakaian yang semakin mahal, rumah yang semakin tinggi, kendaraan yang semakin mewah, dan nama yang semakin dikenal. Namun setiap kali melihat tanah, ada sesuatu yang seharusnya kembali mengetuk kesadaran: semua ketinggian itu berdiri di atas sesuatu yang rendah.
Barangkali itulah rahasia kata turab. Ia bukan sekadar tanah. Ia adalah pengingat tentang asal, kemiskinan, kekayaan, kesombongan, dan kepulangan.
Dan ketika kelak segala yang kita banggakan telah tanggal satu demi satu, mungkin yang tersisa hanyalah pertanyaan paling sederhana: setelah sepanjang hidup berusaha menjadi begitu besar, apakah kita masih ingat bahwa kita pernah menjadi tanah?
