ISLAM LIVE – Ada perdagangan yang dihitung dengan uang, ada pula yang diam-diam menentukan nasib manusia. Yang pertama berlangsung di pasar, di toko, di layar gawai, atau di meja perundingan. Yang kedua berlangsung jauh lebih sunyi: di dalam pilihan-pilihan hidup, ketika seseorang memutuskan apa yang hendak dipertahankan, apa yang rela dilepaskan, dan untuk keuntungan macam apa ia menjalani hidup.
Dalam bahasa Arab, perdagangan disebut tijārah تِجَارَة. Secara asal, kata ini menunjuk pada tindakan mengelola modal dengan tujuan memperoleh keuntungan. Modal diputar, risiko diambil, lalu hasil diharapkan datang lebih besar daripada yang telah dikeluarkan. Begitulah logika perdagangan yang kita kenal.
Tetapi Al-Quran menggunakan kata yang sama untuk sesuatu yang jauh lebih luas daripada transaksi ekonomi. Di sana, manusia bukan sekadar pedagang barang, melainkan pedagang kehidupan. Yang dipertaruhkan bukan hanya uang, melainkan iman, waktu, tenaga, bahkan arah hidup.
Al-Quran mengajukan sebuah pertanyaan yang terasa seperti tawaran di tengah hiruk-pikuk dunia:
هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Apakah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih?” (QS. Al-Saff: 10)
Pertanyaan itu menarik karena menggunakan bahasa yang sangat dekat dengan naluri manusia. Manusia memahami keuntungan. Ia mengerti modal dan hasil. Ia tahu bahwa tidak semua investasi layak dipertahankan. Maka wahyu seakan berbicara dengan bahasa seorang pedagang: ada sebuah perdagangan yang keuntungan akhirnya melampaui apa pun yang bisa ditawarkan dunia.
Ayat berikutnya menyebut bentuk “modal” itu:
تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ
“beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwa” (QS. Al-Shaff:11)
Dalam kerangka ini, iman bukan sekadar keyakinan yang disimpan dalam pikiran. Ia adalah sesuatu yang diinvestasikan ke dalam kehidupan. Harta dan jiwa menjadi modal yang diarahkan kepada sesuatu yang dianggap lebih bernilai daripada keduanya.
Di titik ini, makna tijārah menjadi menarik. Perdagangan bukan hanya soal apa yang kita dapatkan, melainkan juga apa yang kita pertaruhkan.
Setiap manusia, disadari atau tidak, menjalankan perdagangan semacam itu. Kita menukar waktu dengan uang. Menukar tenaga dengan kedudukan. Menukar kebebasan dengan rasa aman. Bahkan terkadang menukar prinsip dengan keuntungan yang sebenarnya hanya bertahan sebentar. Hidup penuh transaksi, meski sebagian besar tidak pernah menggunakan kuitansi.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan apakah manusia berdagang, melainkan apa yang ia anggap sebagai keuntungan.
Al-Quran menggambarkan salah satu bentuk perdagangan yang gagal dengan kalimat yang tajam:
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ
“Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka tidak memperoleh keuntungan dan mereka bukanlah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al-Baqarah: 16).
Di sini perdagangan menjadi metafora yang nyaris sempurna untuk menggambarkan keputusan manusia. Ada sesuatu yang dimiliki, lalu sesuatu yang lain dipilih sebagai gantinya. Petunjuk ditukar dengan kesesatan. Modal yang semestinya menghasilkan keuntungan justru membawa kerugian.
Yang menggetarkan adalah ungkapan فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ perdagangan mereka tidak memperoleh keuntungan.
Dalam dunia bisnis, kerugian biasanya terlihat dalam angka. Neraca merah memberi tahu bahwa sebuah usaha gagal. Namun kerugian kehidupan jauh lebih sulit dikenali. Seseorang bisa tampak berhasil sambil perlahan kehilangan kejujuran. Bisa memiliki banyak harta tetapi kehilangan ketenangan. Bisa memperoleh pengaruh, tetapi kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang menguntungkan dirinya sendiri.
Kerugian semacam itu tidak selalu masuk laporan keuangan.
Dalam konteks yang lebih luas, Al-Quran juga menyebut perdagangan yang berlangsung atas dasar kerelaan:
إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجارَةً عَنْ تَراضٍ مِنْكُمْ
“Kecuali melalui perdagangan yang dilakukan atas dasar saling rela” (QS. Al-Nisa: 29)
Bahkan dalam transaksi yang nyata dan hadir di antara manusia, ada batas moral yang tidak boleh diterobos.
Artinya, perdagangan dalam Islam sejak awal tidak berdiri hanya di atas pertanyaan: “Berapa banyak yang saya dapat?” Ia juga menyentuh pertanyaan: “Bagaimana cara saya mendapatkannya?”
Di sinilah makna tijārah bertemu dengan dunia modern. Ketika ekonomi tumbuh semakin cepat, ketika transaksi dapat dilakukan hanya dengan beberapa sentuhan pada layar, persoalan moral justru tidak menjadi semakin sederhana. Kecepatan perdagangan boleh berubah, bentuk uang boleh berubah, tetapi pertanyaan tentang keuntungan tetap sama: keuntungan bagi siapa, dengan mengorbankan apa, dan untuk berapa lama?
Seorang ahli bahasa, Ibn al-A‘rabi, bahkan menggunakan ungkapan تاجر tājir bukan hanya untuk pedagang. Seseorang dapat disebut “pedagang” dalam suatu perkara ketika ia mahir dan mengetahui cara memperoleh sesuatu darinya. Pengertian ini memperluas makna perdagangan: menjadi pedagang berarti mengetahui bagaimana mengelola sesuatu agar menghasilkan nilai.
Jika demikian, setiap manusia sesungguhnya adalah pedagang dalam bidang hidupnya sendiri. Ada yang pandai mengembangkan harta, tetapi gagal mengembangkan kebijaksanaan. Ada yang piawai mengumpulkan pengaruh, tetapi tidak tahu bagaimana menjaga kepercayaan. Ada pula yang memiliki sedikit modal duniawi, namun mampu mengubah waktu, kesabaran, ilmu, dan kebaikan menjadi sesuatu yang jauh lebih bernilai.
Pada akhirnya, persoalan kehidupan mungkin memang bukan tentang seberapa besar modal yang kita miliki. Yang lebih menentukan adalah ke mana modal itu kita arahkan.
Sebab waktu adalah modal. Tenaga adalah modal. Harta adalah modal. Bahkan perhatian kita; kepada siapa, kepada apa dan untuk berapa lama adalah modal.
Kita semua sedang berdagang.
Hanya saja, tidak semua orang sadar bahwa suatu hari kelak neraca perdagangan itu akan dibuka. Dan pada saat itu, barangkali bukan banyaknya transaksi yang paling penting, melainkan apa yang sesungguhnya kita anggap sebagai keuntungan.
