ISLAM LIVE – Cabai menjadi bagian kuat dalam tradisi kuliner Indonesia. Beragam makanan seperti sambal, seblak, balado hingga masakan khas daerah menunjukkan bagaimana rasa pedas telah melekat dalam kebiasaan makan masyarakat.
Kemampuan menikmati makanan pedas ternyata tidak sama pada setiap orang. Hidangan yang dianggap biasa oleh seseorang yang sejak kecil terbiasa makan cabai dapat terasa sangat menyengat bagi orang yang jarang mengonsumsinya.
Perbedaan tersebut salah satunya berkaitan dengan kebiasaan makan. Paparan makanan pedas sejak usia dini dan konsumsi cabai secara berulang dapat membuat seseorang semakin terbiasa dengan sensasi panas dari cabai.
Sensasi pedas sendiri berasal dari capsaicin, senyawa yang terdapat dalam cabai. Senyawa tersebut berinteraksi dengan reseptor tubuh yang berkaitan dengan rasa panas sehingga menimbulkan sensasi terbakar di mulut.
Orang yang sering mengonsumsi makanan pedas dapat mengalami adaptasi terhadap capsaicin. Karena itu, sensasi panas yang dirasakan bisa menjadi lebih ringan dibandingkan orang yang tidak terbiasa makan makanan bercabai.
Budaya kuliner juga berperan dalam membentuk toleransi tersebut. Selain Indonesia, tradisi makanan pedas dapat ditemukan di sejumlah negara seperti Thailand, India, Meksiko, dan Korea Selatan, meski karakter serta tingkat kepedasannya berbeda.
Indonesia memiliki beragam jenis sambal dan masakan berbahan cabai dari berbagai daerah. Namun, tidak tepat jika Indonesia disebut sebagai negara dengan makanan paling pedas karena tidak terdapat peringkat ilmiah resmi yang membandingkan negara berdasarkan tingkat kepedasan kulinernya.
Tingkat kepedasan lebih tepat diukur berdasarkan kandungan capsaicinoid dalam cabai, salah satunya menggunakan Scoville Heat Units (SHU). Sementara itu, tingkat toleransi setiap orang tetap dipengaruhi kebiasaan makan, pengalaman, preferensi, serta respons tubuh masing-masing.
