ISLAM LIVE- Jika Ibn ‘Arabi dikenal sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam pengembangan doktrin waḥdat al-wujūd (tapi pencetus penamaan pertama adalah Qunawi), maka beberapa abad setelahnya muncul seorang sufi besar dari India yang berusaha meninjau ulang gagasan tersebut. Tokoh itu adalah Ahmad al-Faruqi al-Sirhindi (1564–1624 M), seorang pembaru tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah yang pemikirannya banyak terekam dalam karya monumentalnya, al-Maktūbāt.
Bagi Sirhindi, persoalan utama dalam pembacaan waḥdat al-wujūd bukan terletak pada pengalaman spiritual para sufi, melainkan pada cara pengalaman tersebut dipahami. Ia menilai bahwa sebagian kalangan telah mencampuradukkan antara pengalaman mistik dengan realitas ontologis. Karena itu, ia membedakan secara tegas antara tawḥīd wujūdī (kesatuan eksistensi) dan tawḥīd shuhūdī (kesatuan penyaksian).
Menurutnya, ketika seorang salik (pejalan spiritul) tenggelam dalam pengalaman fanā’, yang terjadi bukanlah penyatuan hakiki antara makhluk dan Tuhan. Yang lenyap hanyalah kesadaran diri salik karena seluruh perhatiannya terserap ke dalam kehadiran Ilahi. Dengan kata lain, pengalaman tersebut bersifat shuhūdī (pada tingkat penyaksian), bukan wujūdī (pada tingkat eksistensi). Karena itulah Sirhindi mengkritik sebagian sufi yang menjadikan pengetahuan tentang waḥdat al-wujūd sebagai syarat perjalanan spiritual dan menganggap bahwa tawḥīd shuhūdī identik dengan tawḥīd wujūdī.
Kritik ini bukan sekadar rekonstruksi para penafsir modern terhadap pemikiran Sirhindi. Dalam al-Maktūbāt, ia secara langsung menyoroti kecenderungan sebagian kalangan sufi yang menjadikan waḥdat al-wujūd sebagai ukuran kebenaran pengalaman rohani dan memandang keyakinan terhadap pluralitas eksistensi sebagai penyimpangan dari jalan spiritual.
وجعلوا معرفة وحدة الوجود من شرائط الطّريق بتخيّل أنّ التّوحيد الشّهوديّ هو عين التّوحيد الوجوديّ وزعموا القائل بتعدّد الوجود ضالّا ومضلّا
“Mereka menjadikan pengetahuan tentang waḥdat al-wujūd sebagai salah satu syarat dalam menempuh jalan spiritual, karena beranggapan bahwa tawḥīd shuhūdī adalah sama dengan tawḥīd wujūdī, dan mereka pun menuduh orang yang meyakini adanya keberagaman eksistensi sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan.” (al-Maktūbāt, Juz 1, 372)
Pernyataan ini menunjukkan bahwa keberatan Sirhindi tidak semata-mata diarahkan pada bahasa metafisis waḥdat al-wujūd saja, melainkan juga pada implikasi teologis yang lahir dari cara sebagian orang memahaminya. Baginya, persoalan menjadi problematis ketika pengalaman spiritual tertentu diangkat menjadi standar universal untuk menilai benar atau salahnya keyakinan orang lain. Dari titik inilah kritik Sirhindi bergerak dari ranah pengalaman mistik menuju ranah akidah.
Ia menolak anggapan bahwa mengakui adanya realitas selain Allah otomatis berarti terjatuh ke dalam syirik. Menurutnya, keberagaman makhluk adalah kenyataan yang tidak dapat disangkal. Yang menjadi masalah bukanlah pengakuan terhadap keberadaan alam, melainkan jika alam dianggap memiliki kemandirian mutlak di hadapan Tuhan. Karena itu, ia menilai bahwa menuduh semua orang yang mengakui pluralitas eksistensi sebagai musyrik merupakan kesimpulan yang berlebihan.
الوجوديّة إنّما يقولون لمن يقول بتعدّد الوجود مشركا باعتبار أنّه يرى ويشاهد الإثنين ومشاهد الإثنين هو مشرك الطّريقة
“Kaum Wujūdiyyah hanya melabeli musyrik kepada orang yang menyatakan adanya keberagaman eksistensi, dengan pertimbangan bahwa orang tersebut melihat dan menyaksikan adanya dua (entitas/hal), sedangkan menyaksikan dua (entitas/hal) dianggap sebagai kesyirikan dalam tarekat.” (al-Maktūbāt, Juz 1, 371)
Namun kritik tersebut tidak berhenti pada penolakan. Sirhindi menyadari bahwa pengalaman kesatuan yang dilaporkan para sufi merupakan fenomena spiritual yang nyata dan tidak dapat begitu saja diabaikan. Karena itu, alih-alih menolak pengalaman tersebut, ia berusaha memberikan penjelasan yang menurutnya lebih selaras dengan prinsip transendensi Tuhan dan perbedaan ontologis antara Khaliq dan makhluk.
Sebagai alternatif, Sirhindi mengajukan konsep waḥdat al-shuhūd. Dalam pandangannya, inti pengalaman spiritual bukanlah meniadakan alam secara ontologis, melainkan melupakan segala sesuatu selain Allah ketika hati sepenuhnya terserap kepada-Nya. Karena itu, fanā’ dipahami sebagai nisyān al-siwā; lupanya kesadaran terhadap selain Allah, bukan hilangnya eksistensi alam secara hakiki.
Dengan demikian, kesatuan yang dialami seorang salik tidak terjadi pada tingkat keberadaan, melainkan pada tingkat kesadaran. Alam tetap ada sebagaimana adanya, tetapi perhatian spiritual seorang salik sedemikian terpusat kepada Allah sehingga segala sesuatu selain-Nya seakan menghilang dari medan penghayatannya.
Untuk memperjelas hal tersebut, Sirhindi mengutip prinsip yang dinisbahkan kepada Baha’ al-Din al-Naqshaband. Prinsip ini menunjukkan bahwa seluruh objek yang masih dapat ditangkap oleh persepsi manusia, baik melalui penglihatan, pendengaran, imajinasi, maupun pikiran, tetap berada dalam kategori “selain Allah” (ghayr Allāh). Oleh karena itu, seorang salik dituntut untuk tidak berhenti pada objek-objek tersebut, melainkan melampauinya menuju Sang Realitas Mutlak.
كلّما يكون مرئيّا مسموعا أو متخيّلا أوموهوما فهو غيره تعالى ينبغي نفيه بحقيقة كلمة
“Setiap apa pun yang terlihat, terdengar, terbayangkan, atau terlintas dalam pikiran, maka itu adalah selain Allah Yang Maha Tinggi, maka ia (hal tersebut) harus ditiadakan (dinafikan) dengan sebenar-benarnya.” (al-Maktūbāt, Juz 1, 372)
Dalam kerangka ini, yang dinafikan bukanlah eksistensi alam sebagai ciptaan Tuhan, melainkan keterikatan kesadaran manusia terhadap segala sesuatu selain-Nya. Fanā’ tidak berarti hilangnya dunia secara ontologis, tetapi tersingkirnya dunia dari pusat perhatian spiritual seorang salik yang sedang tenggelam dalam penyaksian Ilahi.
Melalui gagasan waḥdat al-shuhūd ini, Sirhindi berusaha menjaga keseimbangan antara pengalaman mistik dan akidah teistik Islam. Seorang sufi dapat merasakan bahwa hanya Allah yang hadir dalam kesadarannya, namun pengalaman tersebut tidak mengharuskannya menafikan realitas alam ciptaan. Kesatuan yang dialami adalah kesatuan dalam penyaksian, bukan kesatuan dalam keberadaan. Dengan demikian, transendensi Tuhan tetap terjaga, sementara pengalaman spiritual para sufi tetap memperoleh tempatnya dalam perjalanan menuju Allah.
