Ketika Hidup Memanggil Kita ke Ruang yang Tak Memiliki Bayangan 

15 views

ISLAM LIVE– Ada kalanya hidup terasa seperti padang terbuka. Tak ada tempat bersembunyi. Tak ada pohon yang menaungi. Tak ada bangunan yang melindungi. Hanya hamparan luas yang memperlihatkan segala sesuatu apa adanya.

Di zaman yang penuh pencitraan, kondisi seperti itu justru terasa menakutkan. Kita terbiasa menyunting kenyataan, menampilkan versi terbaik diri, menyembunyikan keraguan dan kegagalan. Padahal, dalam khazanah bahasa Arab klasik, ada sebuah kata yang mengajak manusia berhadapan dengan keterbukaan itu: barah.

Kata ini pada mulanya menunjuk pada sebuah tempat lapang dan terbuka, tanah luas yang tidak ditutupi bangunan ataupun pepohonan. Segala sesuatu yang berada di sana terlihat jelas. Tidak ada yang tersembunyi. Dari makna fisik yang sederhana itu lahir berbagai makna lain yang lebih dalam: keterusterangan, kejelasan, kemunculan sesuatu yang sebelumnya tersembunyi, hingga keteguhan untuk tetap bertahan pada suatu tujuan.

Di sinilah bahasa memperlihatkan keajaibannya. Sebuah padang kosong ternyata dapat menjadi cermin bagi perjalanan manusia.

Ketika sesuatu menjadi terang dan nyata, orang Arab menyebutnya telah keluar dari persembunyian menuju ruang yang terbuka. Rahasia yang lama disimpan akhirnya tampak. Kebenaran yang ditutup-tutupi akhirnya muncul ke permukaan. Seolah-olah ia berpindah dari ruang gelap menuju hamparan luas yang dapat dilihat semua orang.

Fenomena ini terasa sangat tepat hari ini. Kita hidup di era informasi yang bergerak cepat. Kebohongan mungkin dapat berlari lebih dahulu, tetapi kebenaran memiliki cara unik untuk menemukan jalannya sendiri. Banyak kasus yang semula ditutupi akhirnya terungkap. Banyak topeng yang lama dikenakan akhirnya jatuh juga. Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa tidak semua yang tersembunyi dapat disembunyikan selamanya.

Namun makna barah tidak berhenti pada keterbukaan. Dari akar kata yang sama lahir ungkapan yang sangat terkenal dalam Al-Qur’an.

Allah mengabadikan ucapan Nabi Musa a.s:

Baca Juga:  Makna “Bard”: Ketika Segala yang Bergejolak Akhirnya Diam

لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ

“Aku tidak akan berhenti sampai mencapai pertemuan dua laut itu” (QS. Al-Kahfi: 60)

Kalimat ini muncul ketika Musa a.s sedang mencari seorang hamba saleh yang kelak dikenal sebagai Khidir. Yang menarik, frasa laa abrahu secara harfiah berarti “aku tidak akan beranjak”. Bukan sekadar berjalan menuju tujuan, tetapi menegaskan tekad untuk tidak menyerah sebelum tujuan itu tercapai.

Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal ungkapan “pantang mundur”. Tetapi “laa abrahu” terasa lebih dalam dari itu. Ia bukan hanya soal keberanian menghadapi tantangan, melainkan juga kemampuan bertahan dalam proses yang panjang dan melelahkan.

Bukankah sebagian besar kegagalan lahir bukan karena orang tidak mampu, melainkan karena berhenti terlalu cepat?

Kita hidup dalam budaya yang memuja hasil instan. Karier harus cepat naik. Bisnis harus segera untung. Belajar harus segera menghasilkan. Bahkan perjalanan spiritual pun sering diharapkan memberikan perubahan seketika. Ketika hasil tak kunjung datang, banyak orang memilih berbelok arah.

Di titik itulah semangat “laa abrahu” menjadi penting. Keteguhan bukanlah kemampuan berlari paling cepat, melainkan kemampuan tetap berjalan ketika orang lain berhenti.

Menariknya lagi, akar kata yang sama juga melahirkan makna yang berbeda: kesulitan dan penderitaan. Dalam bahasa Arab dikenal istilah tabrih atau tabariih, yang menggambarkan tekanan berat, cobaan yang menyakitkan, atau kesusahan yang mendalam. Orang Arab menyebut demam yang sangat tinggi sebagai buraha’ al-humma, yaitu puncak beratnya demam.

Seakan bahasa itu ingin mengatakan bahwa keteguhan dan penderitaan sering lahir dari sumber yang sama.

Siapa pun yang memilih bertahan pada jalan yang benar akan berjumpa dengan kesulitan. Tidak ada komitmen tanpa pengorbanan. Tidak ada kesetiaan tanpa ujian. Tidak ada keteguhan tanpa rasa lelah.

Karena itu, ketika Al-Qur’an mengisahkan sekelompok orang yang berkata:

Baca Juga:  Riba: Ketika Uang Beranak Pinak dan Manusia Kehilangan Keseimbangan

لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ

“Kami akan tetap menyembahnya dan tidak akan meninggalkannya.” (QS. Thaha: 91)

yang ditonjolkan bukan hanya tindakan mereka, tetapi juga keteguhan mereka. Sayangnya, keteguhan itu diarahkan kepada sesuatu yang salah: patung anak sapi yang mereka sembah.

Di sini kita memperoleh pelajaran penting. Tidak semua keteguhan adalah kebajikan. Seseorang bisa sangat konsisten, tetapi konsisten dalam kesalahan. Bisa sangat teguh, tetapi mempertahankan sesuatu yang keliru.

Maka pertanyaan yang lebih penting bukanlah “seberapa kuat kita bertahan?”, melainkan “apa yang sedang kita pertahankan?”

Di era media sosial, orang sering mempertahankan pendapat hanya demi gengsi. Fakta baru tidak diterima karena dianggap mengancam identitas. Kesalahan enggan diakui karena takut kehilangan muka. Akibatnya, keteguhan berubah menjadi keras kepala.

Padahal keteguhan sejati selalu berjalan berdampingan dengan kerendahan hati. Ia kokoh pada prinsip, tetapi tetap terbuka terhadap kebenaran.

Pada akhirnya, kata barah membawa kita kembali ke makna awalnya: ruang terbuka yang memperlihatkan segala sesuatu apa adanya. Hidup pun pada dasarnya adalah proses menuju keterbukaan semacam itu. Topeng perlahan jatuh. Alasan-alasan buatan perlahan habis. Yang tersisa hanyalah diri kita yang sebenarnya.

Mungkin karena itulah Al-Qur’an begitu sering mengajarkan istiqamah. Bukan sekadar bergerak, melainkan tetap berada di jalan yang benar ketika godaan untuk menyimpang begitu besar. Bukan sekadar memulai perjalanan, melainkan tidak beranjak dari nilai yang diyakini meski perjalanan terasa panjang.

Di tengah dunia yang berubah cepat, manusia membutuhkan kemampuan untuk bergerak sekaligus bertahan. Bergerak mencari kebenaran, tetapi bertahan ketika telah menemukannya.

Sebab pada akhirnya, bukan mereka yang paling cepat yang akan sampai. Melainkan mereka yang mampu berkata dalam diam, di tengah segala rintangan: Laa abrahu: aku tidak akan beranjak sebelum tujuan ini tercapai.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA