Belajar Memahami yang Tak Pernah Dijelaskan 

27 views

ISLAM LIVE – Ada hal-hal dalam hidup yang sengaja tidak dibuat terang. Bukan karena kebenaran itu ingin disembunyikan, melainkan karena manusia perlu bertumbuh sebelum mampu memahaminya. Kita hidup di tengah banyak hal yang tampak kabur: masa depan yang tak pasti, keputusan yang sulit ditebak, bahkan perasaan yang sering kali tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dalam bahasa Arab, keadaan semacam ini memiliki satu akar kata yang kaya makna: mubham, sesuatu yang samar, tertutup, atau tidak mudah dipahami.

Menariknya, akar kata ini tidak hanya berbicara tentang kebingungan pikiran. Ia juga menggambarkan benda yang keras, pintu yang tertutup rapat, malam yang gelap gulita, hingga hewan yang tidak mampu berbicara. Semua makna itu bertemu pada satu gagasan besar: ada sesuatu yang tidak mudah ditembus, baik oleh mata maupun oleh akal.

Dalam khazanah bahasa Arab klasik, kata bahmah mula-mula digunakan untuk menyebut batu yang keras. Batu menjadi lambang sesuatu yang kokoh, sulit ditembus, dan tidak mudah berubah bentuk. Dari sanalah muncul kebiasaan menyebut seorang pemberani sebagai bahmah. Keberaniannya diibaratkan sekeras batu; teguh menghadapi ancaman dan tidak mudah goyah oleh tekanan.

Namun makna itu kemudian berkembang jauh melampaui sekadar kekuatan fisik. Segala sesuatu yang sulit dijangkau oleh indra ataupun sulit dipahami oleh akal disebut mubham. Bukan karena tidak memiliki makna, melainkan karena maknanya belum terbuka bagi orang yang menghadapinya.

Di titik ini, bahasa mengajarkan sesuatu yang sering terlupakan. Tidak semua yang belum kita pahami berarti keliru. Ada hal-hal yang memang memerlukan waktu, pengalaman, dan kedewasaan sebelum menjadi terang.

Karena itu pula bahasa Arab mengenal ungkapan abhamtu al-bab, yakni “aku menutup pintu rapat-rapat”. Bukan sekadar menguncinya, tetapi membuatnya begitu tertutup sehingga orang tidak menemukan jalan untuk membukanya.

Bukankah hidup kadang terasa seperti itu? Ada pintu yang tidak kunjung terbuka meski telah berulang kali diketuk. Ada jawaban yang belum juga datang meskipun doa terus dipanjatkan. Dalam keadaan seperti itu, manusia sering mengira Tuhan sedang diam. Padahal mungkin yang sedang terjadi adalah proses pendewasaan agar seseorang siap menerima apa yang ada di balik pintu tersebut.

Baca Juga:  Saat Jiwa Menemukan Jalan Pulang

Gagasan ini kemudian menyentuh salah satu istilah yang paling akrab dalam kehidupan sehari-hari, yaitu bahimah, yang lazim diterjemahkan sebagai hewan ternak. Akar katanya ternyata masih sama: sesuatu yang suaranya tidak dapat mengungkapkan makna sebagaimana manusia berbicara. Hewan tidak kehilangan kehidupan, tetapi tidak memiliki kemampuan menjelaskan isi dirinya melalui bahasa.

Al-Qur’an menggunakan istilah itu ketika berfirman:

أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ

“Dihalalkan bagimu hewan-hewan ternak” (QS. Al-Ma’idah: 1).

Ayat ini menunjukkan bahwa kata bahimah bukan sekadar nama jenis hewan, tetapi juga membawa jejak makna kebahasaan tentang makhluk yang tidak memiliki kemampuan berbicara sebagaimana manusia. Bahasa Al-Qur’an selalu memilih kata dengan lapisan makna yang kaya, sehingga satu istilah dapat memuat dimensi biologis sekaligus filosofis.

Namun jika ditarik lebih jauh, akar kata yang sama juga melahirkan ungkapan lailun bahim, malam yang sangat pekat. Bukan malam biasa, melainkan malam yang menutup segala arah. Gelapnya membuat mata kehilangan kemampuan membedakan bentuk dan jarak. Dalam kegelapan seperti itu, manusia dipaksa mengurangi kesombongannya. Mata yang pada siang hari merasa mampu melihat segalanya, tiba-tiba menjadi tak berdaya.

Bukankah pengalaman hidup sering menyerupai malam semacam itu? Ada masa ketika seluruh rencana tampak kabur. Jalan yang kemarin terlihat jelas mendadak menghilang. Justru dalam situasi seperti itulah manusia belajar berjalan dengan keyakinan, bukan semata-mata dengan penglihatan.

Dalam konteks yang lebih luas, bahasa Arab bahkan menyebut seekor kuda berwarna tunggal sebagai bahim. Warnanya begitu seragam sehingga mata hampir tidak menemukan batas atau corak yang membedakannya. Sekali lagi, akar maknanya tetap sama: sesuatu yang tidak mudah dibedakan secara jelas.

Baca Juga:  Kita Tidak Lagi Dibohongi, Kita Sudah Terbiasa Hidup Bersamanya

Pandangan ini mencapai puncaknya dalam sebuah hadis Nabi Muhammad saw:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عُرَاةً حُفَاةً بُهْمًا

“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan telanjang, tanpa alas kaki, dan ‘buhman'”

Ketika para sahabat bertanya apa yang dimaksud dengan buhman, Nabi saw menjelaskan bahwa mereka datang tanpa membawa apa pun. Sebagian ulama juga memahami bahwa manusia pada hari itu telah kehilangan seluruh tanda kebesaran dunia: pakaian, pangkat, perhiasan, bahkan identitas sosial yang dahulu mereka banggakan.

Gambaran itu terasa begitu menyentuh. Selama hidup, manusia sibuk membangun citra, mengumpulkan simbol kehormatan, dan membedakan dirinya dari orang lain. Namun pada akhirnya semua atribut itu lenyap. Yang tersisa hanyalah diri yang sebenarnya.

Mungkin di situlah pesan terdalam dari akar kata ب ه م.Yang kabur bukan selalu sesuatu yang buruk. Kadang justru kaburnya dunia membuat manusia melihat kenyataan yang lebih jernih. Ketika segala label dilepaskan, seseorang akhirnya mengenal siapa dirinya di hadapan Tuhan.

Bahkan istilah bahm yang berarti anak-anak domba serta buhma, nama sejenis tumbuhan berduri yang tumbuh rapat hingga sulit ditembus, tetap mengandung benang merah yang sama: sesuatu yang padat, tertutup, dan tidak mudah dijangkau. Bahasa Arab memperlihatkan bagaimana satu akar kata mampu menjalar ke berbagai makna tanpa kehilangan ruhnya.

Pada akhirnya, hidup memang tidak selalu menawarkan kejelasan. Ada saat ketika kita berjalan di bawah “malam yang bahim“, menghadapi “pintu yang mubham“, atau berada di tengah keadaan yang belum bisa dijelaskan. Namun mungkin justru di sanalah kebijaksanaan lahir. Sebab tidak semua kebenaran datang dalam cahaya yang terang. Ada yang baru memperlihatkan maknanya setelah manusia bersedia menempuh perjalanan panjang melewati gelap, diam, dan ketidakpastian.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA