Ada Tempat yang Terasa Seperti Pulang 

44 views

ISLAM LIVE – Ada kata-kata dalam Al-Quran yang tidak sekadar menunjuk pada sebuah tindakan, tetapi juga menyimpan gambaran tentang bagaimana manusia semestinya berada di dunia. Salah satunya adalah bā’a باء. Kata ini berakar pada gagasan tentang tempat yang sesuai: ruang yang tidak menolak kehadiran seseorang, tempat di mana sesuatu berada dalam keadaan selaras dengan sekelilingnya.

Dalam bahasa Arab klasik, bawā’ بواء pada mulanya menunjuk pada kesetaraan bagian-bagian dalam sebuah ruang. Lawannya adalah sesuatu yang nabā نبا, yang tidak cocok, menyembul, atau tidak menyatu dengan tempatnya. Karena itu, ketika seseorang menyediakan sebuah tempat bagi orang lain, digunakan ungkapan bawwa’tu lahu makānan بَوَّأْتُ له مكانا : aku menyiapkan baginya sebuah tempat yang sesuai. Ia kemudian tabawwa’a تَبَوَّأَ : menempati tempat itu.

Gagasan yang tampak sederhana ini ternyata membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih dalam: di mana sebenarnya manusia menemukan tempatnya?

Al-Quran menggunakan kata dari akar yang sama dalam sejumlah konteks. Ketika Musa a.s dan Harun a.s diperintahkan untuk menyediakan rumah bagi kaumnya di Mesir, dikatakan: 

وَأَوْحَيْنا إِلى مُوسى وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّءا لِقَوْمِكُما بِمِصْرَ بُيُوتاً 

“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, ‘Ambillah oleh kamu berdua beberapa rumah untuk kaummu di Mesir” (Yunus: 87). 

Dalam ayat lain disebutkan bahwa Allah menempatkan Bani Israil pada suatu tempat yang baik. Yusuf a.s pun, setelah melewati masa-masa sulit, memperoleh kedudukan di bumi sehingga ia dapat menempati tempat yang dikehendakinya.

Di sini, tempat bukan sekadar alamat. Ia adalah keadaan keberadaan.

Seseorang bisa memiliki rumah, tetapi belum tentu merasa berada di tempatnya. Ia bisa menduduki jabatan, tetapi tidak menemukan kedudukannya. Ia bisa hidup di tengah banyak orang, namun tetap merasa asing. Sebaliknya, ada keadaan ketika seseorang seakan-akan menemukan ruang yang memang disediakan baginya: ia tahu apa yang harus dilakukan, untuk siapa ia bekerja, dan ke mana hidupnya diarahkan.

Makna bā’a باء menjadi menarik justru karena bahasa Arab menghubungkannya dengan kesesuaian dan keseimbangan. Sebuah tempat disebut baik bukan semata karena luas atau indah, melainkan karena ia cocok dengan orang yang menempatinya.

Baca Juga:  Siapa Sebenarnya Keluarga Kita? Makna “Ahl” yang Melampaui Hubungan Darah

Dalam kehidupan sosial, gagasan itu bahkan berkembang menjadi makna kesetaraan. Bā’a dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa seseorang setara dengan orang lain, terutama dalam urusan perkawinan dan qishash. Dua pihak berada dalam ukuran yang sepadan. Tidak ada yang ditempatkan terlalu tinggi hingga yang lain direndahkan, dan tidak ada pula yang dipaksa berada di luar ruang yang semestinya.

Dari sini kita dapat memahami mengapa akar kata yang sama berkaitan dengan ungkapan bā’a bi dzanbihi  باء بذنبه menanggung atau kembali dengan suatu dosa. Al-Quran menggambarkan putra Adam yang mengakui bahwa pihak lain akan “membawa” dosa pembunuhan dan dosanya sendiri. Dalam Surah Al-Maidah ayat 29, ungkapannya berbunyi:

إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ

“Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan membawa dosaku dan dosamu” (QS. Al-Maidah: 29)

Kata tabū’a di sini mengandung bayangan yang kuat: seseorang pulang kepada suatu keadaan dan menetap di dalam konsekuensinya. Dosa bukan sesuatu yang hilang begitu saja setelah perbuatan selesai. Ia dapat menjadi “tempat” yang harus ditempati oleh pelakunya.

Gagasan semacam ini terasa semakin relevan dalam kehidupan modern. Kita sering berbicara tentang kebebasan seolah manusia dapat memilih apa saja tanpa harus menanggung akibatnya. Kita mengejar ruang yang lebih besar, jabatan yang lebih tinggi, pengaruh yang lebih luas. Namun bahasa bā’a mengingatkan bahwa setiap pilihan pada akhirnya menciptakan tempat bagi kita, dan tempat itu bisa berupa kehormatan, bisa pula berupa penyesalan.

Hal yang sama tampak pada ungkapan Al-Quran tentang orang-orang yang “kembali dengan kemurkaan Allah”:

بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ

“Ia kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah” (QS. Al-Anfal: 16)

Yang menarik, kemurkaan itu digambarkan bukan sekadar sebagai hukuman yang datang dari luar. Ia melekat pada keadaan orang tersebut, seperti seseorang yang pulang ke tempat yang telah menjadi konsekuensi dari pilihannya sendiri. Ke mana pun ia pergi, keadaan itu mengikutinya.

Baca Juga:  Ketika Al-Qur’an Menggambarkan Infak sebagai Kebun di Dataran Tinggi

Karena itu, bā’a bukan hanya tentang menemukan tempat. Ia juga tentang menyadari apa yang kita bawa ketika memasuki tempat tersebut.

Ada manusia yang masuk ke sebuah ruang dengan membawa ketenangan. Ada yang datang dengan membawa luka. Ada yang membawa tanggung jawab. Ada pula yang membawa kesalahan yang belum selesai. Tempat dapat berubah, tetapi apa yang melekat dalam diri sering ikut berpindah.

Dalam bahasa sehari-hari, akar kata ini juga melahirkan ungkapan tabawwa’a yang berarti menempati atau mendapatkan tempat, bahkan digunakan sebagai kiasan untuk perkawinan. Seakan-akan menikah adalah membangun sebuah ruang bersama, sebuah tempat yang harus dihuni oleh dua manusia dengan kesediaan untuk saling menyesuaikan diri.

Di titik ini, makna bā’a bergerak jauh melampaui persoalan bahasa. Ia berbicara tentang kebutuhan manusia yang paling mendasar: menemukan tempat yang sesuai, sekaligus menjadi pribadi yang pantas bagi tempat itu.

Sebab tidak semua tempat yang kita inginkan adalah tempat yang baik bagi kita. Dan tidak setiap tempat yang kita tempati berarti kita telah benar-benar berada di dalamnya.

Mungkin karena itu kehidupan tidak hanya meminta manusia untuk mencari tempat, tetapi juga menyiapkan dirinya agar dapat menempati tempat tersebut dengan benar. Rumah perlu dibangun. Kedudukan perlu diisi. Hubungan perlu dirawat. Kesalahan perlu dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, manusia bukan hanya ditanya ke mana ia pergi, melainkan apa yang ia bawa ketika sampai di sana.

Sebab ada tempat yang menjadi rumah karena kita menemukan keselarasan di dalamnya. Ada pula tempat yang berubah menjadi hukuman karena kita datang dengan beban yang tidak pernah kita selesaikan.

Dan barangkali, di antara keduanya, terletak salah satu pelajaran paling sunyi dari kata bā’a: hidup adalah perjalanan untuk menemukan tempat yang tepat sekaligus belajar menjadi manusia yang tepat bagi tempat itu.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA