ISLAM LIVE – Polemik seputar buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam semakin memanas setelah sejumlah tokoh yang namanya tercantum dalam daftar kontributor membantah pernah mengirimkan tulisan atau memberikan izin pencantuman nama. Buku setebal 368 halaman yang diinisiasi oleh Ketua MPR Ahmad Muzani dan Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar ini diluncurkan pada 26 Agustus 2025 di Jakarta.
Mantan Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, secara tegas membantah pernah mengirimkan tulisan untuk buku tersebut. Pernyataan ini disampaikan saat menjawab pertanyaan netizen melalui akun media sosialnya pada Minggu (6/9/2026). “Saya tidak pernah mengirimkan tulisan,” jawab TGB. Namun, tercantum namanya pada halaman 241 sebagai penulis artikel “Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan” .
Bantahan serupa juga datang dari KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Melalui istrinya, Ning Jazilah Annahdliyah, Gus Kautsar menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menulis maupun memberikan izin pencantuman nama dalam buku tersebut. Istri Gus Kautsar memprotes keras melalui media sosial, “Seng genaaahh (Yang benar aja). Kok bisa-bisanya ada nama suami saya di buku ini,,?!! Hei Penulis, minimal izin/pamit dulu kalau mau nyantumin nama” .
Gus Kautsar menjelaskan bahwa dirinya pernah diwawancarai oleh utusan salah satu penulis pada pertengahan 2024 mengenai pandangan pesantren terhadap kebangsaan dan kebinekaan, tetapi tidak pernah diberi tahu bahwa hasil wawancara akan dimuat dalam buku berjudul tersebut. “Kita nggak ngerti kalau kemudian berjudul seperti ini. Kita tidak sadar,” ujarnya.
Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas menilai judul buku ini berpotensi memecah belah umat Islam dan menyarankan agar judul diubah . Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menilai secara umum tidak ada masalah mendasar dengan isi buku, tetapi mengakui lebih banyak dipicu oleh judul yang dapat menimbulkan persepsi berbeda .
Kalau saya ditanya mengenai judulnya, saya tidak tahu, karena memang tidak pernah diajak bertambah. Kalau judulnya misalnya ‘Prabowo dan Islam’, menurut saya akan lebih mudah dipahami sebagai pembahasan mengenai hubungan Prabowo dengan Islam, ujar Yusril.
Hingga kini, pihak penerbit maupun tim penulis belum memberikan pernyataan resmi atas bantahan dan polemik yang muncul terkait buku ini .
