Tentang Putih yang Tak Sekadar Warna 

25 views

ISLAM LIVE – Putih biasanya dianggap sekadar warna. Ia hadir pada pakaian, dinding, kertas, atau cahaya. Namun dalam bahasa Al-Qur’an dan khazanah Arab klasik, putih tidak berhenti sebagai gejala mata. Ia dapat menjadi bahasa tentang kegembiraan, kemuliaan, kebersihan batin, bahkan keadaan manusia di hadapan Tuhan.

Bahasa Arab mengenal بياض bayādh sebagai putih, lawan dari hitam. Kata ini berasal dari akar yang menggambarkan perubahan menuju putih: ابيض ibyaddha, menjadi putih. Tetapi menariknya, Al-Qur’an tidak selalu menggunakan putih untuk menunjuk warna secara harfiah. Dalam sejumlah ayat, putih adalah keadaan jiwa yang seakan-akan menemukan cahaya dan kelapangan.

Al-Qur’an menggambarkan suatu hari yang menentukan dengan kalimat yang sangat visual:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ ۝ وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَتِ اللَّهِ

Pada hari ketika ada wajah-wajah yang menjadi putih dan ada pula wajah-wajah yang menjadi hitam. Adapun mereka yang wajahnya menghitam, dikatakan, ‘Mengapa kalian kafir setelah beriman? Maka rasakanlah azab karena kekafiran kalian.’ Sedangkan mereka yang wajahnya menjadi putih, mereka berada dalam rahmat Allah
(QS Ali Imran: 106–107)

Wajah di sini seperti layar yang memantulkan apa yang tersembunyi di dalam diri. Putih bukan sekadar warna kulit. Ia adalah gambaran tentang kegembiraan, keselamatan dan kelapangan. Sebaliknya, hitam menjadi metafora bagi duka, kehinaan dan penyesalan.

Gambaran serupa muncul dalam ayat lain. Al-Qur’an menyebut wajah orang-orang berbahagia pada hari itu sebagai نَّاضِرَةٌ nadhirah , berseri-seri. Pada Surah Abasa, wajah mereka digambarkan مُسْفِرَةٌ  musfirah, bercahaya, tertawa dan penuh kegembiraan:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ ۝ ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ

Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa dan bergembira
(QS Abasa: 38–39)

Baca Juga:  Saat Jiwa Menemukan Jalan Pulang

Bahasa semacam ini terasa dekat dengan pengalaman manusia sehari-hari. Kita sering dapat membaca kegembiraan seseorang tanpa ia mengatakan apa pun. Wajah yang muram memberi tahu adanya beban. Mata yang berbinar menyampaikan kabar baik bahkan sebelum kata-kata keluar. Ada sesuatu dalam diri manusia yang sulit sepenuhnya disembunyikan.

Karena itu, dalam kebudayaan Arab lama, putih juga berkembang menjadi simbol kemuliaan. Seseorang yang tidak ternoda oleh aib dapat disebut “putih”. Putih menjadi metafora bagi nama baik yang terjaga, kehormatan yang tidak tercemar, dan kemurahan hati.

Jejak makna ini memperlihatkan bahwa manusia sejak dahulu tidak sekadar melihat warna sebagai warna. Warna menjadi bahasa moral. Putih dipakai untuk membayangkan sesuatu yang bersih, terang dan bernilai; hitam untuk menggambarkan sesuatu yang berat, gelap dan menakutkan.

Bahkan kata baydhah, telur, lahir dari asosiasi dengan warna putih dan bentuknya. Dari sana muncul berbagai ungkapan. Perempuan, misalnya, dalam sebagian sastra Arab klasik pernah diibaratkan sebagai telur: bukan hanya karena warna dan bentuk, melainkan karena ia dipandang sebagai sesuatu yang terlindungi di bawah sayap.

Ungkapan baydhat al-balad, “telur negeri”, juga memiliki dua kemungkinan makna. Dalam pengertian pujian, ia merujuk kepada seseorang yang menjadi tokoh utama, terlindungi dan terhormat di tengah masyarakat. Namun dalam pengertian celaan, ungkapan yang sama bisa menggambarkan sesuatu yang justru tergeletak sendirian di tanah lapang; tak terlindungi, mudah disentuh dan dirusak.

Di sini bahasa menunjukkan sesuatu yang menarik: simbol tidak pernah berdiri sendiri. Makna putih dapat berubah bergantung pada konteks. Putih dapat berarti kemuliaan, tetapi sesuatu yang putih dan tergeletak sendirian juga dapat menjadi lambang kerentanan.

Baca Juga:  Apakah Menggunakan AI Diperbolehkan dalam Islam? Ini Penjelasannya

Begitulah bahasa bekerja. Ia menyimpan sejarah cara manusia memandang dunia.

Dalam konteks modern, makna bayādh mungkin mengingatkan kita pada kecenderungan untuk menilai manusia dari apa yang tampak. Kita mudah menghubungkan pakaian putih dengan kesucian, wajah cerah dengan kebahagiaan, atau penampilan bersih dengan moralitas. Padahal Al-Qur’an justru membawa simbol putih lebih jauh: yang penting bukan warna di permukaan, melainkan keadaan yang direpresentasikannya.

Wajah yang “memutih” dalam gambaran eskatologis bukanlah kemenangan kosmetik. Ia adalah tanda dari sesuatu yang lebih dalam; sebuah keadaan batin yang menemukan rahmat.

Mungkin karena itu, putih menjadi simbol yang kuat. Ia mengingatkan bahwa manusia dapat menyembunyikan banyak hal dari mata manusia, tetapi tidak dari perjalanan hidupnya sendiri. Apa yang terus-menerus kita simpan di dalam diri, pada akhirnya mencari jalan untuk muncul ke permukaan.

Ada wajah yang tampak tenang tetapi menyimpan kegelisahan. Ada pula wajah sederhana yang memancarkan ketenteraman tanpa banyak bicara. Keduanya mengajarkan hal yang sama: cahaya manusia tidak selalu berasal dari apa yang dipakainya, melainkan dari apa yang dikerjakannya.

Putih, dalam pengertian ini, bukan sekadar warna. Ia adalah metafora tentang sesuatu yang tidak ternoda. Tentang kegembiraan yang lahir dari keselamatan. Tentang nama baik yang tidak dibeli dengan penampilan. Dan pada akhirnya, tentang wajah manusia yang kelak menjadi cermin paling jujur dari kehidupan yang pernah dijalaninya.

Mungkin itulah alasan bahasa Al-Qur’an memilih wajah sebagai tempat putih dan hitam diperlihatkan. Wajah adalah bagian tubuh yang paling sulit kita sembunyikan. Ia menjadi pertemuan antara yang terlihat dan yang tak terlihat, antara kehidupan yang kita jalani di luar dan keadaan yang kita bangun diam-diam di dalam.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA