Kesengsaraan Bukan Nama Lain dari Kehinaan 

32 views

ISLAM LIVE – Ada kemiskinan yang terlihat dari pakaian yang lusuh, meja makan yang kosong, atau rumah yang tak lagi mampu melindungi penghuninya dari hujan. Namun ada jenis kemiskinan yang lebih dalam: keadaan ketika seseorang bukan hanya kekurangan, melainkan mulai merasa hina karena kekurangannya. Dalam bahasa Arab, keadaan itu disebut bu’s بؤس.

Bu’s bukan sekadar miskin. Ia mengandung bayangan tentang kesulitan, penderitaan, kesengsaraan, bahkan perang. Karena itu, kata ini memiliki kedekatan dengan ba’s بَأْس dan ba’sā’ بَأْسَاء, tetapi masing-masing membawa tekanan makna yang berbeda. Ba’s lebih sering menunjuk pada kekuatan yang menghantam atau menundukkan, sementara bu’s lebih dekat dengan penderitaan yang dialami manusia, terutama kemiskinan dan kesulitan hidup.

Al-Qur’an menggunakan istilah-istilah itu dengan sangat cermat. Ketika menggambarkan manusia yang diuji oleh kemiskinan, penderitaan, dan peperangan, Al-Qur’an menyebut:

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ

Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan ketika peperangan” (QS. Al-Baqarah: 177).

Di sini penderitaan tidak digambarkan sebagai satu bentuk luka saja. Ada ba’sā’, kesempitan hidup; ada ḍarrā’, penderitaan atau kemudaratan; dan ada ba’s, situasi ketika kekerasan dan ancaman berhadapan langsung dengan manusia. Hidup, rupanya, mengenal banyak cara untuk menguji ketahanan seseorang.

Namun bu’s memiliki sisi lain yang menarik. Ia bukan hanya keadaan yang menimpa manusia, tetapi juga keadaan batin yang dapat mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Karena itu Al-Qur’an menggunakan ungkapan فَلَا تَبْتَئِسْjanganlah engkau bersedih” atau “jangan larut dalam kesengsaraan” kepada Nabi Nuh a.s ketika kaumnya hendak ditimpa azab. Larangan itu bukan sekadar ajakan agar seseorang berhenti menangis. Ada pesan yang lebih dalam: jangan biarkan penderitaan menjadi tempat tinggal jiwamu.

Baca Juga:  “Ayyada”: Mengapa Kita Tetap Bertahan ketika Segalanya Hampir Runtuh? 

Di titik ini, makna bu’s terasa sangat dekat dengan kehidupan modern. Kemiskinan memang dapat menguras isi dompet, tetapi yang sering luput diperhatikan adalah bagaimana kemiskinan dapat menggerogoti harga diri. Seseorang yang terus-menerus hidup dalam kekurangan bisa merasa dirinya lebih rendah daripada orang lain. Ia bukan hanya tidak memiliki sesuatu; ia mulai merasa bahwa dirinya tidak layak memiliki.

Karena itu terdapat perbedaan antara mengalami kemiskinan dan menjadikan kemiskinan sebagai identitas diri.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw tidak menyukai bu’s, tabā’us, dan tabā’ūs yaitu keadaan ketika seseorang menampakkan kemelaratan, merendahkan diri, atau sengaja memperlihatkan dirinya dalam keadaan hina. Pesannya menarik karena Islam tidak hanya berbicara tentang bagaimana manusia bertahan dari kemiskinan, tetapi juga bagaimana ia mempertahankan martabat ketika berada di dalamnya.

Kemiskinan tidak semestinya memaksa manusia kehilangan harga dirinya.

Gagasan ini kemudian membawa kita kepada kata bi’sa بِئْسَ, kata yang dalam Al-Qur’an berkali-kali digunakan untuk menyatakan keburukan atau kecaman: “seburuk-buruknya”, “betapa buruknya”, atau “alangkah buruknya”. Secara asal-usul bahasa, bi’sa berhubungan dengan akar yang sama dengan bu’s, yakni keadaan buruk dan sengsara.

Hubungan itu seolah memperlihatkan sesuatu yang menarik: bahasa Arab tidak memisahkan begitu saja antara pengalaman penderitaan dan penilaian moral terhadap sesuatu yang buruk. Kata yang lahir dari medan makna kesengsaraan kemudian digunakan untuk mengecam tindakan, tempat kembali, atau pilihan hidup yang buruk.

Al-Qur’an, misalnya, menyebut:

وَبِئْسَ الْقَرَارُ

Dan seburuk-buruk tempat menetap” (QS. Ibrahim: 29).

Baca Juga:  "Baraza": Saat Diri Tak Lagi Bisa Bersembunyi 

Juga:

فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

Maka sungguh, seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang menyombongkan diri” (QS. An-Nahl: 29).

Bahasa kemudian menjadi semacam cermin moral. Sesuatu disebut bi’sa bukan karena ia sekadar tidak menyenangkan, melainkan karena di dalamnya terdapat keburukan yang layak dihindari.

Dalam konteks yang lebih luas, bu’s mengajarkan bahwa penderitaan tidak selalu identik dengan kemiskinan material. Seseorang bisa memiliki rumah besar, pakaian mahal, dan rekening yang penuh, tetapi hidup dalam bu’s yang tidak terlihat. Ia mungkin miskin ketenangan, miskin kasih sayang, miskin rasa cukup, atau miskin keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.

Sebaliknya, orang yang hidup sederhana belum tentu berada dalam kesengsaraan. Ada manusia yang serba terbatas, tetapi tidak kehilangan martabat. Ada pula yang tidak banyak memiliki, tetapi masih mampu tersenyum tanpa merasa harus berpura-pura menjadi orang lain.

Mungkin karena itu, persoalan kemiskinan tidak cukup diselesaikan dengan memberikan sesuatu kepada orang yang kekurangan. Yang perlu dipulihkan juga adalah perasaan bahwa ia tetap manusia yang berharga.

Pada akhirnya, bu’s bukan hanya cerita tentang apa yang tidak kita miliki. Ia adalah pertanyaan tentang apa yang terjadi pada diri kita ketika hidup mengambil banyak hal dari tangan kita. Apakah kekurangan membuat kita semakin kecil, atau justru mengajarkan bahwa martabat manusia tidak pernah sepenuhnya bergantung pada apa yang ia punya?

Kemiskinan dapat mengambil banyak benda dari seseorang. Tetapi jangan sampai ia juga mengambil keyakinan bahwa dirinya masih layak dihormati.

Sebab mungkin bentuk kemiskinan yang paling menyedihkan bukan ketika seseorang kehilangan harta, melainkan ketika ia kehilangan dirinya sendiri.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA