ISLAM LIVE – Ada cahaya yang membuat mata mampu melihat dunia. Ada pula cahaya yang membuat manusia mampu melihat dirinya sendiri. Yang pertama menerangi jalan di luar diri; yang kedua menerangi jalan di dalam hati.
Al-Qur’an menyebut cahaya dalam pengertian yang jauh lebih dalam daripada sekadar terang yang berlawanan dengan gelap. Dalam Ayat Cahaya—Surah An-Nur ayat 35—Allah swt menggambarkan cahaya-Nya melalui sebuah perumpamaan yang indah: sebuah ceruk, sebuah lampu, kaca yang berkilauan, minyak zaitun yang hampir-hampir memancarkan cahaya meski belum disentuh api.
Perumpamaan itu tidak berhenti pada satu makna. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, gambaran tentang ceruk, lampu, kaca, dan minyak zaitun dapat dibaca sebagai rangkaian simbol tentang hidayah Allah swt yang menerangi hati manusia. Cahaya itu memiliki sumber, wadah, bahan bakar, dan jalan untuk menyala. Namun, semakin direnungkan, semakin tampak bahwa ayat tersebut membuka lapisan makna yang lebih luas.
Sebab itu, para penafsir tidak selalu berhenti pada satu tafsir. Satu kata dalam Al-Qur’an dapat mengandung beberapa dimensi makna. Bahkan satu ayat dapat menjadi seperti sebuah cermin: orang yang melihatnya dari sudut berbeda akan menemukan pantulan yang berbeda pula, tanpa harus kehilangan pusat makna yang sama.
Di sinilah pembahasan tentang Ayat Cahaya memasuki wilayah yang lebih dalam.
Satu Ayat, Banyak Lapisan Makna
Dalam tradisi tafsir, terdapat pandangan bahwa sebuah ayat tidak selalu hanya memiliki satu kemungkinan penafsiran. Bahasa Al-Qur’an memiliki keluasan yang memungkinkan satu kata digunakan dalam beberapa makna yang saling berdekatan atau bahkan saling melengkapi.
Karena itu, tidak tepat jika setiap tafsir yang berbeda langsung dianggap sebagai pertentangan. Selama penafsiran tersebut memiliki dasar dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Al-Qur’an, berbagai lapisan makna dapat membantu manusia memahami keluasan pesan wahyu.
Perhatikan misalnya kata-kata yang digunakan dalam Ayat Cahaya. Para penyair bahkan dapat menggunakan satu kata dalam beberapa makna sekaligus. Kata “mata”, misalnya, dapat berarti organ penglihatan, sumber mata air, emas, atau bahkan sesuatu yang menjadi pusat perhatian. Dalam bahasa Arab, kekayaan semacam ini juga sangat mungkin ditemukan dalam teks-teks sastra dan wahyu.
Karena itu, ketika Al-Qur’an berbicara tentang cahaya, lampu, kaca, minyak zaitun, dan pohon yang diberkahi, pembaca tidak harus membatasi dirinya hanya pada satu lapisan pemahaman.
Ada makna yang bersifat lahiriah. Ada makna simbolik. Ada pula makna filosofis dan spiritual.
Semuanya dapat membawa manusia menuju satu kesimpulan: cahaya yang sesungguhnya adalah cahaya yang membawa manusia mendekati kebenaran.
Tafsir Filosofis: Tiga Alam dan Tiga Tingkatan Cahaya
Dalam penafsiran filosofis, perumpamaan dalam Ayat Cahaya dikaitkan dengan tiga tingkatan alam: alam akal, alam jiwa, dan alam materi.
Para filsuf berbicara tentang alam akal sebagai wilayah yang berada di balik materi—dunia gagasan dan realitas intelektual yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Kemudian ada alam jiwa, tempat berbagai bentuk realitas nonmaterial berhubungan dengan dunia material. Setelah itu terdapat alam materi, dunia yang kita huni dengan segala bentuk, benda, ruang, dan waktu.
Dalam kerangka ini, ungkapan “cahaya di atas cahaya” dapat dipahami sebagai gambaran tentang keberadaan yang bertingkat. Cahaya tidak hanya hadir dalam satu bentuk. Ia mengalir dari satu tingkat ke tingkat yang lain, dari sumber yang lebih tinggi menuju realitas yang lebih rendah.
Di sinilah perumpamaan lampu menjadi menarik.
Lampu membutuhkan wadah agar cahayanya dapat memancar. Dalam perumpamaan tersebut, lampu berada dalam kaca. Kaca itu sendiri berada dalam sebuah ceruk. Semuanya memiliki hubungan satu sama lain.
Jika dibaca secara filosofis, misykat dapat dipahami sebagai gambaran tentang struktur keberadaan. Lampu adalah cahaya. Kaca menjadi medium yang meneruskan dan memperlihatkan cahaya. Sementara itu, ceruk menjadi tempat yang menjaga dan mengarahkan cahaya tersebut.
Namun, pembacaan ini tidak berhenti pada filsafat abstrak.
Sebab dalam kehidupan manusia, akal juga membutuhkan wadah.
Pengetahuan yang luas tidak otomatis membuat seseorang tercerahkan. Seseorang dapat memiliki banyak informasi tetapi tetap hidup dalam kegelapan. Ia bisa mengetahui banyak hal tentang dunia, tetapi tidak mengetahui ke mana hidupnya harus diarahkan.
Karena itu, cahaya pengetahuan membutuhkan hati yang mampu menerimanya.
Inilah yang membawa kita kembali kepada makna spiritual dari perumpamaan tersebut.
Hati Manusia adalah Tempat Cahaya Itu Menyala
Dalam pembahasan sebelumnya, lampu digambarkan sebagai sesuatu yang menerangi manusia. Cahaya berasal dari sumber yang diberkahi, sementara wadahnya adalah hati yang siap menerima.
Maka persoalannya bukan hanya: dari mana cahaya berasal?
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah hati manusia siap menjadi tempat cahaya itu menyala?
Sebab cahaya yang sama dapat berada di hadapan dua manusia, tetapi hanya salah satunya yang benar-benar melihat.
Al-Qur’an hadir di tengah manusia. Ayat-ayatnya dibaca setiap hari. Namun, tidak setiap pembacaan melahirkan perubahan. Ada orang yang membaca Al-Qur’an lalu hatinya menjadi lembut. Ada pula yang membacanya tetapi tetap kembali kepada kesombongan, kebencian, dan hawa nafsu.
Masalahnya bukan pada cahaya.
Masalahnya ada pada wadah yang menerimanya.
Hati yang dipenuhi kesombongan akan sulit menerima cahaya. Hati yang dikuasai hawa nafsu akan memutarbalikkan cahaya menjadi pembenaran bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, hati yang bersedia tunduk kepada kebenaran akan semakin terang setiap kali berhadapan dengan wahyu.
Karena itu, hidayah bukan sekadar sesuatu yang ditunggu.
Manusia juga harus mempersiapkan dirinya untuk menerimanya.
Al-Qur’an menyebut beberapa jalan yang dapat memperkuat cahaya iman: mengenal dan merenungkan Al-Qur’an, memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah dalam penciptaan, menjaga takwa dengan menjauhi dosa, serta memperkuat hubungan dengan Allah melalui tawakal dan doa.
Semakin manusia mendekat kepada sumber cahaya, semakin terang pula jalan yang dilaluinya.
Sebaliknya, semakin ia membiarkan dirinya tenggelam dalam dosa dan kesombongan, semakin tebal pula kegelapan yang menghalangi pandangannya.
Tafsir Riwayat: Lampu, Hati Rasulullah, dan Pohon yang Diberkahi
Lapisan lain dari penafsiran Ayat Cahaya datang melalui riwayat.
Dalam penafsiran ini, “lampu” dikaitkan dengan ilmu yang menerangi manusia. Ia bukan sekadar cahaya fisik, melainkan cahaya pengetahuan yang membimbing manusia menuju kebenaran.
Sementara itu, “kaca” dalam perumpamaan dapat dikaitkan dengan hati Rasulullah ﷺ sebagai wadah yang menerima dan memancarkan cahaya tersebut. Dalam sebagian riwayat, makna ini juga dikaitkan dengan wasiat dan penerus risalah setelah Rasulullah.
Gambaran tersebut menjadi semakin kuat jika mengingat sejarah kehidupan Nabi Muhammad ﷺ.
Rasulullah bukan hanya menyampaikan ilmu. Beliau menjadi manusia yang hidup di bawah cahaya wahyu. Ketika masyarakat berada dalam kegelapan jahiliah, beliau hadir membawa petunjuk. Ketika manusia terpecah oleh kesukuan dan fanatisme, beliau membawa risalah yang menyatukan.
Dalam salah satu riwayat yang dikutip dalam pembahasan ini, terdapat gambaran tentang seseorang yang terluka dalam peperangan, kemudian menerima perlakuan penuh kasih dan penghormatan. Peristiwa semacam itu menjadi simbol bahwa cahaya kenabian tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi menjelma menjadi akhlak dan tindakan.
Sebab ilmu yang tidak mengubah perilaku belum sepenuhnya menjadi cahaya.
Cahaya yang sesungguhnya adalah pengetahuan yang menghidupkan hati, kemudian menggerakkan manusia untuk berbuat benar.
Di sinilah pohon zaitun dalam ayat tersebut memperoleh makna simboliknya.
Ia disebut sebagai pohon yang diberkahi, yang tidak hanya berada di satu arah geografis—bukan semata-mata Timur dan bukan pula Barat. Minyaknya begitu jernih sehingga hampir-hampir bercahaya meskipun belum disentuh api.
Gambaran itu menunjukkan sebuah sumber cahaya yang bersih, murni, dan universal.
Cahaya kebenaran tidak dapat dimonopoli oleh batas geografis, bangsa, atau kepentingan tertentu. Ia bukan milik Timur atau Barat. Ia bukan milik satu kelompok manusia semata.
Ia berasal dari Allah swt dan mengarahkan manusia kepada Allah swt.
“Cahaya di Atas Cahaya”
Pada akhirnya, seluruh rangkaian perumpamaan itu kembali kepada satu ungkapan yang sangat kuat: “cahaya di atas cahaya.”
Cahaya yang satu menerangi cahaya yang lain.
Dalam kehidupan spiritual manusia, ini dapat dipahami sebagai proses yang terus bertumbuh. Seseorang mengenal kebenaran, lalu kebenaran itu membawanya kepada pengetahuan yang lebih dalam. Pengetahuan itu melahirkan kesadaran. Kesadaran melahirkan ketakwaan. Ketakwaan menjaga manusia dari dosa. Dan semakin ia menjaga dirinya, semakin kuat pula cahaya iman di dalam hatinya.
Dengan demikian, iman bukan benda mati.
Ia dapat bertambah dan berkurang.
Ia dapat menyala dan meredup.
Ia dapat dijaga, tetapi juga dapat padam jika manusia terus-menerus menutup dirinya dari kebenaran.
Itulah sebabnya manusia tidak cukup hanya berdoa agar diberi cahaya. Ia juga harus membersihkan tempat yang akan menerima cahaya tersebut.
Hati yang bersih akan lebih mudah mengenali kebenaran. Akal yang terbuka akan lebih mudah menerima pengetahuan. Jiwa yang tunduk kepada Allah akan lebih mudah mengikuti petunjuk.
Sebaliknya, manusia yang sengaja memilih kegelapan tidak dapat menyalahkan cahaya karena ia tidak melihat.
Sebagaimana orang yang berada di dalam ruangan gelap tidak membutuhkan matahari yang lebih kuat, melainkan membutuhkan pintu yang dibuka.
Mungkin itulah salah satu pesan terdalam dari Ayat Cahaya.
Allah telah menunjukkan jalan. Al-Qur’an telah menjadi petunjuk. Para nabi telah membawa risalah. Akal telah diberikan. Hati telah dianugerahi kemampuan untuk mengenali kebenaran.
Yang tersisa adalah pilihan manusia: apakah ia akan membuka dirinya terhadap cahaya, atau justru memilih untuk tetap tinggal dalam gelap?
Pada akhirnya, hidayah memang berasal dari Allah. Tetapi manusia harus menyiapkan dirinya untuk menerimanya. Ia harus mencari ilmu, merenungkan ciptaan, menjaga takwa, meninggalkan dosa, dan terus mengetuk pintu Allah melalui doa.
Sebab cahaya tidak hanya menerangi jalan.
Cahaya mengubah orang yang berjalan di atasnya.
Dan ketika cahaya itu benar-benar masuk ke dalam hati, manusia tidak lagi sekadar mengetahui ke mana harus pergi. Ia mulai memahami mengapa ia harus berjalan, kepada siapa ia harus menuju, dan untuk apa seluruh perjalanan hidup ini dijalani.
Itulah cahaya di atas cahaya—hidayah yang bertemu dengan hati yang siap menerimanya, ilmu yang bertemu dengan jiwa yang tunduk, dan pengetahuan yang akhirnya menjelma menjadi kehidupan.
