ISLAM LIVE – Di lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Sungai Jelag, Kudus, pria yang akrab disapa Mbah Riyan dikenal sebagai tukang bangunan. Namun di dunia akademik, ia dikenal sebagai Ibnu Harjo Al-Jawi, seorang muhaqqiq yang telah menyyunting (tahqiq) puluhan kitab klasik ulama dan menghasilkan karya yang menjadi referensi di berbagai pusat studi Islam.
Menurut unggahan akun Instagram @dawuhguru yang dikutip Inilah.com, Kamis (30/7/2026), keseharian Mbah Riyan nyaris tidak menggambarkan kiprahnya di bidang keilmuan. Ia tetap menjalani pekerjaan sebagai tukang bangunan dan menghabiskan waktu luangnya dengan memancing di sungai.
“Kalau melihat seseorang memakai baju sederhana, bekerja sebagai tukang bangunan, lalu sore harinya memancing di sungai, mungkin kita akan mengira sebagai orang biasa. Padahal, bisa jadi kita sedang berpapasan dengan orang yang ilmunya dipelajari oleh dunia,” demikian penggalan narasi dalam unggahan akun Instagram @dawuhguru.
Unggahan tersebut menyebut Mbah Riyan memilih menjalani kehidupan sederhana dan tidak mengejar popularitas. Di balik kesehariannya, ia menekuni penyuntingan naskah-naskah klasik dengan membandingkan berbagai manuskrip, mengukur perbedaan redaksi, dan memastikan keakuratan teks.
Disebutkan pula, hingga kini Ibnu Harjo Al-Jawi telah menyelesaikan 12 jilid kitab tahqiq serta menghasilkan lebih dari 100 karya ilmiah. Karya-karyanya di bidang ushul fikih, hadis, akidah, dan tasawuf disebut digunakan oleh para peneliti, ilmuwan, dan ulama di berbagai negara.
Salah satu kisah yang disampaikan dalam unggahan tersebut adalah ketika Mbah Riyan menerima MUI Awards. Menurut Dawuh Guru, ia memilih untuk tidak menghadiri acara tersebut.
“Bahkan ketika menerima Penghargaan MUI, dia memilih tidak hadir. Bukan karena tidak menghargai penghargaan, tetapi karena dia lebih memilih membangun manfaat daripada membangun nama,” demikian ditulis dalam unggahan Dawuh Guru.
Kisah Mbah Riyan menjadi gambaran bahwa kiprah seseorang di bidang keilmuan tidak selalu berjalan seiring dengan popularitas. Di balik kehidupan yang sederhana, ia tetap berkarya melalui pelestarian khazanah intelektual Islam yang dimanfaatkan oleh kalangan pelajar dan peneliti.
