ISLAM LIVE – Ada satu kata yang diam-diam menjadi fondasi banyak hal dalam kehidupan manusia: membangun. Kita membangun rumah, membangun keluarga, membangun kepercayaan, membangun peradaban, bahkan membangun diri sendiri. Yang menarik, Al-Qur’an menggunakan akar kata bana بنى bukan sekadar untuk menunjuk aktivitas mendirikan bangunan, melainkan untuk menggambarkan bagaimana kehidupan itu sendiri disusun, dipelihara dan diberi makna.
Di tengah zaman yang serba cepat, ketika orang berlomba menciptakan sesuatu yang tampak megah dari luar, Al-Qur’an mengingatkan bahwa yang terpenting bukanlah apa yang berdiri, melainkan apa yang menjadi fondasinya. Sebab sebuah bangunan tidak pernah hanya terdiri dari batu, kayu, atau beton. Ia lahir dari niat, tujuan, dan nilai yang menopangnya.
Gambaran itu muncul sejak manusia menengadah ke langit. Al-Qur’an menyatakan:
وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا
“Dan Kami membangun di atas kamu tujuh langit yang kokoh” (QS. An-Naba’: 12)
Di ayat lain ditegaskan:
وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ
“Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan, dan sungguh Kami benar-benar meluaskannya” (QS. Adz-Dzariyat: 47)
Langit digambarkan bukan sebagai sesuatu yang muncul begitu saja, melainkan sebagai bangunan kosmis yang kokoh, teratur, dan terus berkembang. Kata “membangun” di sini memperlihatkan bahwa penciptaan Allah berlangsung dengan ukuran, hikmah, dan keteraturan yang sempurna. Alam semesta bukan hasil kebetulan, melainkan sebuah konstruksi yang penuh makna.
Dari sana, makna bina meluas ke kehidupan manusia. Rumah, misalnya, hanyalah simbol paling sederhana dari sebuah bangunan. Yang jauh lebih penting adalah kehidupan yang tumbuh di dalamnya. Sebuah rumah bisa berdiri megah, tetapi kosong dari kasih sayang. Sebaliknya, rumah yang sederhana dapat menjadi tempat paling damai jika dibangun di atas cinta, kejujuran, dan saling menjaga.
Karena itu Al-Qur’an juga menggambarkan balasan bagi orang-orang beriman sebagai bangunan yang indah:
لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ
“Bagi mereka kamar-kamar yang bertingkat, yang dibangun dengan kokoh” (QS. Az-Zumar: 20)
Surga tidak hanya dilukiskan sebagai taman yang hijau, tetapi juga sebagai tempat tinggal yang dibangun dengan sempurna. Seolah Al-Qur’an ingin mengatakan bahwa tempat terbaik adalah tempat yang dibangun dengan keabadian, bukan sekadar dengan kemewahan.
Namun, bangunan dalam Al-Qur’an tidak selalu menjadi simbol kebaikan. Ada bangunan yang justru menjadi saksi kesalahan manusia. Tentang orang-orang munafik yang mendirikan Masjid Dhirar, Allah berfirman bahwa bangunan yang mereka dirikan akan terus menjadi keraguan di dalam hati mereka. Yang salah bukan bentuk bangunannya, melainkan niat yang menjadi pondasinya.
Pesannya terasa sangat relevan hari ini. Banyak orang sibuk membangun citra, reputasi, bahkan institusi yang tampak mengesankan. Tetapi bila fondasinya rapuh; dibangun di atas kepentingan pribadi, kebohongan, atau ambisi semata, bangunan itu hanya menunggu waktu untuk runtuh. Sebaliknya, sesuatu yang tampak sederhana dapat bertahan lama bila dibangun di atas kejujuran.
Dalam Al-Qur’an, akar kata yang sama juga melahirkan kata ibn anak. Ini bukan hubungan kebetulan. Secara bahasa, anak disebut ibn karena ia merupakan “bangunan” orang tuanya. Bukan berarti anak adalah milik orang tua, tetapi ia tumbuh melalui proses pembentukan, pendidikan, dan pemeliharaan.
Maka ketika Nabi Ya’qub a.s berkata kepada Yusuf a.s,
يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ
“Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu” (QS. Yusuf: 5)
atau ketika Luqman a.s menasihati putranya,
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ
“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah” (QS. Luqman: 13)
panggilan yā bunayya bukan sekadar sapaan yang lembut. Ia mencerminkan kasih seorang pembangun kepada bangunan yang sedang ia rawat. Pendidikan dalam Islam ternyata bukan sekadar menyampaikan ilmu, melainkan membentuk manusia sedikit demi sedikit, sebagaimana seorang tukang menyusun batu demi batu hingga menjadi bangunan yang kokoh.
Makna “ابن” dalam bahasa Arab bahkan berkembang jauh melampaui hubungan biologis. Orang Arab menyebut musafir sebagai ibnu sabil anak jalanan, karena hidupnya melekat pada perjalanan. Ada pula ungkapan ibnu al-‘ilm, anak ilmu, bagi orang yang mengabdikan hidupnya untuk pengetahuan; atau ibnu al-lail, anak malam, bagi mereka yang akrab dengan malam.
Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan bahwa manusia pada akhirnya akan dikenali dari apa yang paling membentuk dirinya. Ada orang yang menjadi “anak harta”, karena seluruh hidupnya berputar pada kekayaan. Ada yang menjadi “anak jabatan”, karena identitasnya bergantung pada kekuasaan. Bahkan dalam tradisi Arab dikenal ungkapan tentang seseorang yang menjadi “anak perutnya”, yaitu orang yang seluruh hidupnya hanya mengejar makan dan kenikmatan jasmani, atau “anak harinya”, yakni mereka yang hidup hanya untuk hari ini tanpa pernah memikirkan masa depan.
Pertanyaannya kemudian menjadi sangat pribadi: kita sedang dibangun oleh apa?
Al-Qur’an juga menolak penyandaran hubungan “anak” kepada Allah. Ketika sebagian kaum Yahudi menyebut Uzair sebagai anak Allah, atau sebagian kaum Nasrani menyebut Al-Masih a.s sebagai anak Allah, Al-Qur’an menegaskan bahwa hubungan semacam itu tidak layak disandarkan kepada Tuhan. Allah adalah Pencipta segala sesuatu, bukan bagian dari hubungan biologis sebagaimana manusia. Dengan demikian, istilah “anak” tetap berada dalam wilayah makhluk, bukan sifat Ketuhanan.
Di titik inilah makna bina menemukan kedalamannya. Hidup ternyata bukan sekadar soal memiliki sesuatu, melainkan soal membangun sesuatu. Membangun iman, membangun keluarga, membangun karakter, membangun masyarakat, hingga membangun hubungan dengan Allah.
Bangunan yang sesungguhnya tidak selalu terlihat mata. Karakter dibangun lewat kebiasaan kecil yang diulang setiap hari. Kepercayaan dibangun lewat kejujuran yang konsisten. Ilmu dibangun lewat kesabaran belajar. Bahkan sebuah peradaban tidak lahir dalam semalam, melainkan melalui generasi demi generasi yang saling menyempurnakan fondasi yang telah diletakkan sebelumnya.
Pada akhirnya, setiap manusia adalah seorang pembangun. Pertanyaannya bukan apakah kita sedang membangun, melainkan apa yang sedang kita bangun, dengan fondasi apa, dan untuk tujuan apa. Sebab bangunan yang kokoh tidak diukur dari tingginya menjulang, melainkan dari kekuatan dasar yang menopangnya ketika badai datang. Dan mungkin, sebagaimana langit yang dibangun Allah dengan keteraturan yang sempurna, kehidupan terbaik juga lahir dari proses membangun yang sabar, jujur, dan penuh makna.
