“Insan”: Yang Membuat Kita Jadi Manusia Bukanlah Kesendirian, Melainkan Kehadiran bagi Sesama

15 views

ISLAM LIVE– Di tengah zaman yang memuja kemandirian, manusia justru semakin akrab dengan kesepian. Kita hidup dalam jaringan digital yang tak pernah tidur, tetapi hubungan antarmanusia terasa semakin rapuh. Ironisnya, semakin banyak cara untuk terhubung, semakin banyak pula orang yang merasa terasing. Dalam situasi seperti ini, sebuah pertanyaan kuno kembali relevan: sebenarnya apa makna menjadi manusia?

Pertanyaan itu pernah dijawab oleh para ulama bahasa dan pemikir klasik ketika mereka mengulas kata ins الإنس, akar kata yang melahirkan istilah insan atau manusia. Bagi mereka, manusia bukan sekadar makhluk biologis yang berjalan di atas bumi. Ia adalah makhluk yang hakikatnya terikat pada keakraban, kedekatan, dan hubungan dengan sesamanya.

Dalam bahasa Arab, ins merupakan lawan dari jinn. Jika jin dipahami sebagai makhluk yang tersembunyi dari pandangan, maka manusia adalah makhluk yang tampak, hadir, dan hidup dalam ruang perjumpaan. Dari akar kata yang sama lahir kata uns atau anas, yang berarti keakraban, kenyamanan, dan hilangnya rasa takut atau keterasingan.

Makna ini menarik. Sebab sejak awal, identitas manusia ternyata tidak dibangun di atas kesendirian, melainkan pada kemampuan untuk menciptakan kedekatan.

Karena itu, dalam tradisi bahasa Arab, sesuatu yang dekat dengan manusia sering disebut insi. Sisi hewan yang menghadap penunggangnya disebut bagian insi. Sisi busur yang menghadap pemanah juga disebut insi. Segala sesuatu yang dekat dan menghadap manusia memperoleh nama dari akar kata yang sama. Sebaliknya, yang jauh dan asing disebut wahsyi, sesuatu yang liar dan berada di sisi lain.

Di sini kita menemukan pesan yang lebih dalam: menjadi manusia berarti bergerak dari keterasingan menuju keakraban. Dari rasa takut menuju rasa aman. Dari kesendirian menuju kebersamaan.

Makna tersebut juga tampak dalam beberapa penggunaan Al-Qur’an. Ketika berbicara tentang pengelolaan harta anak yatim, Al-Qur’an menggunakan ungkapan:

فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ

Baca Juga:  Kalimat yang Menumbuhkan atau Merobohkan: Perumpamaan Kalimat Baik dan Buruk dalam Al-Qur’an

“Jika kalian melihat pada mereka kedewasaan dan kecakapan, maka serahkanlah kepada mereka harta mereka.” (QS. An-Nisa: 6)

Kata anastum dalam ayat ini tidak sekadar berarti “melihat”. Ia mengandung makna menemukan tanda yang jelas, merasakan keyakinan, dan mengenali sesuatu dengan penuh perhatian. Seolah Al-Qur’an mengajarkan bahwa memahami manusia tidak cukup hanya dengan memandang dari kejauhan. Dibutuhkan kedekatan dan pengenalan yang sungguh-sungguh.

Demikian pula ketika Nabi Musa a.s melihat api di tengah perjalanan dan berkata:

آنَسْتُ نَارًا

“Aku melihat api.” (QS. Thaha: 10)

Kata yang digunakan bukan sekadar melihat secara fisik, tetapi menemukan sesuatu yang menghadirkan harapan di tengah kegelapan dan kesendirian.

Bahkan ketika Al-Qur’an mengajarkan etika memasuki rumah orang lain, digunakan ungkapan:

حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا

“Sampai kalian meminta izin dan memastikan kehadiran kalian diterima.” (QS. An-Nur: 27)

Menariknya, ayat ini tidak langsung menggunakan kata “meminta izin”, tetapi terlebih dahulu memakai kata yang berakar dari uns atau keakraban. Pesannya jelas: hubungan sosial bukan hanya soal prosedur, melainkan tentang menciptakan rasa nyaman bagi orang lain.

Dari sinilah sebagian ulama menjelaskan mengapa manusia disebut insan. Salah satu pendapat menyatakan bahwa manusia dinamai demikian karena ia tidak dapat bertahan hidup tanpa kehadiran manusia lain. Ia membutuhkan teman, keluarga, masyarakat, dan komunitas. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk sosial secara fitrah.

Jauh sebelum teori sosiologi modern lahir, para pemikir Muslim telah mengungkapkan gagasan serupa melalui kalimat yang terkenal: al-insan madaniyyun bi ath-thab‘, manusia adalah makhluk sosial menurut tabiatnya. Tidak ada seorang pun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri. Petani membutuhkan pedagang. Pedagang membutuhkan pengrajin. Pengrajin membutuhkan ilmuwan. Semua saling terhubung dalam jaringan ketergantungan yang tak terhindarkan.

Pandangan ini terasa sangat relevan hari ini. Dunia modern sering mempromosikan narasi tentang individu yang sukses sendirian, tentang pahlawan tunggal yang menaklukkan segala tantangan dengan kekuatan dirinya sendiri. Namun kenyataan berkata lain. Di balik setiap pencapaian besar selalu ada dukungan banyak orang: keluarga yang memberi ruang, guru yang membimbing, teman yang menguatkan, hingga masyarakat yang menyediakan ekosistem bagi tumbuhnya kemampuan.

Baca Juga:  Kajian Hadits: Menangis dan Meratap Bolehkah Menurut Sunnah?

Ada pula pendapat lain yang lebih menarik. Sebagian ulama mengatakan bahwa manusia disebut insan karena ia mudah merasa akrab dengan apa yang dikenalnya. Ia memiliki kemampuan membangun hubungan emosional dengan lingkungan sekitarnya. Manusia dapat mencintai rumahnya, mengenang kampung halamannya, merindukan teman lamanya, bahkan merasa dekat dengan benda-benda yang menyimpan kenangan.

Kemampuan untuk “mengakrabkan diri” inilah yang membuat hidup manusia penuh makna. Tanpa itu, dunia hanya akan menjadi kumpulan objek yang dingin dan tanpa jiwa.

Namun ada juga penjelasan ketiga yang bernada peringatan. Menurut sebagian ahli bahasa, kata insan berasal dari bentuk awal insiyan, yang berkaitan dengan sifat lupa. Manusia disebut insan karena ia sering melupakan amanah, janji, dan pelajaran yang pernah diterimanya.

Pandangan ini menghadirkan keseimbangan. Di satu sisi, manusia adalah makhluk yang mampu membangun keakraban dan peradaban. Di sisi lain, ia juga rentan lupa terhadap nilai-nilai yang menopang kehidupannya.

Mungkin di sinilah letak drama terbesar kemanusiaan. Kita diciptakan untuk saling mendekat, tetapi sering memilih menjauh. Kita membutuhkan orang lain, tetapi kadang terjebak dalam ego yang membuat hubungan retak. Kita mencari kehangatan, namun sering lupa bahwa kehangatan itu lahir dari perhatian, empati, dan kepedulian.

Pada akhirnya, makna insan bukan hanya menjelaskan siapa manusia, tetapi juga mengingatkan bagaimana seharusnya manusia hidup. Bukan sebagai makhluk yang menara dirinya sendiri, melainkan sebagai pribadi yang menghadirkan rasa aman bagi sesama. Sebab mungkin ukuran paling mendasar dari kemanusiaan bukanlah seberapa tinggi pencapaian seseorang, melainkan seberapa banyak orang merasa nyaman, tenteram, dan dimanusiakan ketika berada di dekatnya.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA